Silahkan sampaikan opini anda sesuai dengan hati nurani anda, siapakah yang layak menjadi pemimpin di republik yang kita cintai ini!.
Blog Stats
- 45,000 hits
| M | T | W | T | F | S | S |
|---|---|---|---|---|---|---|
| « Oct | ||||||
| 1 | ||||||
| 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 |
| 9 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 |
| 16 | 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 |
| 23 | 24 | 25 | 26 | 27 | 28 | 29 |
| 30 | ||||||
Pages
- About AMPI
- Hukum
- Opini
- Partai-Partai
- Profile Pemilih
- Tokoh Kita
- Tulisan Pilihan
- Adakah Diperlukan Paradigma Baru?
- Agenda Politik dan Momentum Pewarisan Budaya
- Carut Marut Sistem Politik di Negeri Ponari
- KOALISI TAHAP II
- Mencont(r)eng Wajah Demokrasi
- Menimbang SBY di 2009
- Parpol Islam Kian Terpuruk
- Pemerintah Daerah yang Tidak Berdaya
- Pemilu, Golput, dan Aspirasi Agama dalam Demokrasi
- Pencampuradukan Politik dengan Pemerintahan
- Pergeseran Geopolitik Menjelang 2009
- Pilkada dan Kendala Perubahan
- POKOK-POKOK PIKIRAN SEMINAR KONSOLDASI DEMOKRASI REFLEKSI KELEMBAGAAN POLITIK SELAMA 10 TAHUN REFORMASI
- Problem Kepemimpinan Kepala Daerah
- REKONSTRUKSI SISTEM BERNEGARA DI INDONESIA
- Sistem Kepartaian Indonesia Menuju Pemilu 2009
Recent Posts
- Di Balik Kisruh POLRI dan KPK
- detikcom : Pemprov DIY Gelar Tirakatan Mengenang Maklumat 5 September
- Dimana Presiden di Lantik?
- Praktek Kenegaraan yang Aneh
- detikcom : Tim SBY Siap Hadapi Tim JK dan Mega di MK
- detikcom : SBY Diminta Buktikan Tudingan Bom Terkait Pilpres
- detikcom : Pengamat Intelijen: Terkait Politik, Tapi Tak Berarti Dilakukan Lawan SBY
- detikcom : Andi Mallarangeng: Itu Masih Terlalu Dini
- detikcom : Taufiq Kiemas: Kalau Golkar Hebat, Kita Sama-sama Dong!
- detikcom : Evaluasi Hasil Pilpres, JK Segera Gelar Rapimnassus Golkar
- detikcom : Dituding Korupsi, SBY Pertimbangkan Tempuh Jalur Hukum
- Iran Ellection
- PERLUKAH REKONSTRUKSI SISTEM BERNEGARA DI INDONESIA
- Hasil Survei Terbaru, Elektabilitas SBY-Boediono Makin Turun
- LKPP Masih Buruk, Capres Jangan Jadi Garong Terus
Top Posts
- Sistem PARLEMENTER dan Sistem PRESIDENSIAL
- Pemerintah Daerah yang Tidak Berdaya
- Problem Kepemimpinan Kepala Daerah
- Dimana Presiden di Lantik?
- Sistem Presidensial Kuasi Parlementer (?) Berdasarkan UUD 1945 Amandemen IV
- Pemilu dan Pembentukan Pemerintahan
- Pak Harto itu Mundur karena di Demo Mahasiswa
- Agenda Politik dan Momentum Pewarisan Budaya
- Tata Cara Tindak Pelanggaran Pemilu Belum Ada
- Sistem Kepartaian Indonesia Menuju Pemilu 2009
- Partai-Partai
- Pilkada dan Kendala Perubahan
Other Business Info
Important Info
- October 2009 (1)
- September 2009 (1)
- August 2009 (2)
- July 2009 (7)
- June 2009 (7)
- May 2009 (2)
- April 2009 (2)
- March 2009 (1)
- February 2009 (1)
- January 2009 (7)
- December 2008 (4)
- November 2008 (9)
- October 2008 (4)
- September 2008 (16)
- August 2008 (16)
- July 2008 (36)
- June 2008 (26)
- May 2008 (26)
- April 2008 (34)
- March 2008 (17)
- February 2008 (13)
Recent Comments
| rioraha on Sistem PARLEMENTER dan Sistem… | |
| Ali Syarief on Praktek Kenegaraan yang A… | |
| indonesia on Praktek Kenegaraan yang A… | |
| Public Blog Kompasia… on Sistem PARLEMENTER dan Sistem… | |
| iptah on Di Hadapan Kader HMI Lampung A… | |
| hamba allah on Adakah Diperlukan Paradigma… | |
| wedy on Menyoal Para Calon Presiden… | |
| Farid Mu'adz on Menimbang SBY di 2009 | |
| dir88gun2 on The Big Battle For the last Ep… | |
| Hendarmin Ranadireks… on Adakah Diperlukan Paradigma… |
Flickr Photos
|
Top Clicks
- None







5 comments
Comments feed for this article
February 21, 2008 at 5:12 am
Feisal Assegaf
Sosok pemimpin yang layak adalah :
Dia adil terhadap siapa pun, cerdas dalam memberikan solusi yang terbaik buat rakyatnya. Tegas dam berwibawa sehingga bangsa ini menjadi bangsa yang lebih bermartabat, tidak direndahkan oleh bangsa lain, mandiri, mampu memenuhi kebutuhan dalam negerinya sendiri, dengan sedikit ketergantungan terhadap pihak luar.
Di era global, memang sebuah negara tidak mungkin berdiri sendiri tanpa mau bekerja sama dengan negara lain. Akan tetapi yang perlu diperhatikan oleh seorang pemimpin adalah sejauhmana potensi di negeri sendiri, dapat lebih banyak dinikmati oleh sebagian besar masyarakat kita.
Seorang pemimpin haruslah mengutamakan kepentingan mayoritas penduduknya, tanpa harus mengorbankan martabat dan harga diri seorang pemimpin itu sendiri.
Seorang pemimpin akan berhasil, manakala didukung pula oleh pengikutnya sehingga terjalin sinergi yang saling menguntungkan kedua belah pihak. Tanpa adanya sinergi antara pemimpin dengan pengikutnya, maka sebaik apa pun program yang sudah dicanangkan maka niscaya tidak akan pernah berhasil untuk diimplementasikan.
Kita sebagai masyarakat biasa juga perlu memahami karakteristik seorang pemimpin melalui ajang pemilihan langsung dengan cara melihat track record sebelumnya serta komitmennya terhadap program-program yang dia pernah janjikan pada saat melakukan kampanye.
Sebagai seorang praktisi dan konsultan bidang SDM, saya sangat concern terhadap masalah pemberdayaan masyarakat. Negara-negara yang bisa dikatakan “maju” adalah negara yang SDM-nya memiliki tiga unsur yakni :
Knowledge, yakni pengetahuan yang dia miliki tidak hanya satu bidang saja tetapi berperspektif global. Skill, artinya dia memiliki keahlian di bidangnya masing-masing serta mampu bersaing secara sehat dengan skill yang dimilikinya tersebut. Attitude, prilaku dia sangat positive thinking sehingga ketika menghadapi masalah apa pun, tetap yang dikedepankan adalah “adanya peluang yang bisa diraih dan dicari solusinya, meskipun tantangannya tidak kalah berat”. Hal-hal inilah yang menjadi “concern” kita bersama untuk memperbaiki keadaan yang ada sekarang menjadi lebih baik.
Optimisme harus terus dipupuk dalam keadaan apa pun, sebab bila kita melihat kepada negara-negara lain yang saat ini sudah maju, kita akan lihat bagaimana bangsa tersebut bergerak menuju perubahan yang lebih baik melalui kerja keras dan juga cerdas, kebersamaan dalam membangun bangsanya, komitmen pemimpinnya terhadap program jangka panjang yang secara berkesinambungan dilaksanakan, serta tetap mengedepankan kejujuran dan amanah sebagai satu bentuk pertanggung jawaban yang nantinya harus kita wujudkan secara positif dan demi kemajuan bersama.
Salam,
Feisal Assegaf
Konsultan SDM dan Perencana Kehumasan
February 21, 2008 at 6:49 am
karindo
Thank you Sir, hope you are the one of them
March 11, 2008 at 8:02 am
Martin
Sebagai Bangsa yang (seharusnya) berjiwa besar, kita sebaiknya secara realistis melihat bahwa terpuruknya Bangsa ini disebabkan oleh Kemiskinan (yang hampir permanen) dimana kemiskinan tersebut disebabkan dua faktor:
Pertama, Pemerintah RI tidak/belum menunjukkan keseriusan untuk membangun Sektor Pendidikan bagi Anak-Anak Bangsa. Padahal kita sudah sangat mengetahui bahwa Pendidikan (sengaja saya pergunakan “P” kapital untuk kata tersebut karena Pendidikan yang saya maksud adalah Pendidikan dalam arti yang luas, yang mencakup Pendidikan Akademis, Pendidikan Moral dan Pendidikan Ideologi) merupakan modal dasar yang membentuk pola pikir seseorang menjadi warga negara yang baik.
Kedua, Pemerintah RI tidak/belum mampu menunjukkan keseriusan untuk memberantas Korupsi. Korupsi, yang sering dikatakan sebagai kutuk terbesar abad ini dalam kehidupan umat manusia seolah menjadi aroma dari nafas yang kita hirup setiap saat, terutama di Indonesia. Dengan keahliannya bermetamorfosa, Koruptor sudah menjelma dalam banyak wujud, ada yang menjadi pemimpin baik sipil maupun militer, politikus, profesional, pendidik bahkan lebih hebat lagi agamawan. Korupsi sudah menjadi kanker yang menggerogoti hampir tubuh Bangsa. Kalau diibaratkan Indonesia adalah Ibu Pertiwi, maka Korupsi sudah berupa kanker yang menggerogoti otak (pengambil kebijakan yang korup), tenggorokan (penyambung lidah rakyat yang korup), payudara (pemberi makan rakyat yang korup), usus (pengolah pendapatan negara yang korup), leher rahim (penghasil calon-calon pemimpin yang korup), tulang (penjaga struktur dan sendi negara yang korup) dan getah bening (perilaku antar pejabat yang saling memakan dan berlomba dalam olimpiade korupsi). Kemiskinan Bangsa ini, adalah hasil nyata dari kesuksesan budaya Korupsi.
Untuk kedua faktor di atas, yang kelihatannya lebih realistis untuk dilakukan saat ini adalah membangun Sektor Pendidikan yang harus gratis bagi Anak-Anak Bangsa, minimal sampai jenjang SMA. Siapa pun Pemimpin kita, selama dia memiliki komitmen yang sangat kuat untuk membangun Pendidikan, masa lalu atau backgroundnya menjadi tidak terlalu penting. Minimal kita layak berharap bahwa dalam 15 sampai dengan 20 tahun ke depan akan muncul generasi yang lebih cerdas dan berjiwa Nasionalis. Tidak mudah terhasut, teriming-imingi sesuatu yang sebenarnya absurd dan berpola pikir realistis sehingga mampu bersaing dalam global tight competition.
Sedangkan untuk memberantas Korupsi sampai ke akar-akarnya adalah hal yang sangat sulit dilakukan dengan cepat. Hal tersebut disebabkan sudah begitu hebat dan kokohnya piramida Korupsi di Indonesia. Siapa pun Pemimpin dan/atau calon Pemimpin yang ada sekarang, pada umumnya merupakan bagian dari masa lalu. Masa di mana Korupsi dilakukan secara “berjamaah”. Masa di mana hasil korupsi didistribusikan dengan begitu luar biasa sempurnanya, baik dengan cara up-feeding maupun down-feeding. Dari mulai top level goverment sampai dengan lowest level goverment.
Taruhlah, ada seseorang yang track record-nya bersih, tidak berhubungan dengan Piramida Korupsi baik yang terjadi di masa lalu maupun yang sedang terjadi. Sekarang dia terpilih menjadi Pemimpin yang memiliki komitmen kuat untuk memberantas Korupsi. Yang jadi pertanyaan adalah: Dengan cara bagaimana dia akan memberantas Korupsi? Sementara kita sadari bahwa tidak mungkin mengganti seluruh personil yang duduk dalam Legislatif, Eksekutif dan Yudikatif dengan cara sukarela. Trias Politica tersebut akan secara sadar maupun tidak bermain dalam irama orkestra yang sama, yaitu bagaimana menutupi dosa masa lalunya dan melindungi hasil kejahatannya. Legislatif akan membuat sekaligus mengesahkan peraturan yang relatif aman untuk dirinya, Eksekutif akan memilih untuk menjalankan aturan yang relatif aman untuk dirinya, Yudikatif akan melakukan tindakan hukum tebang pilih terhadap tersangka yang juga aman dan tidak memiliki potensi untuk “menyanyikan lagoe tempo doeloe” yang bisa saja dapat menyeret pemeriksanya ke meja hijau.
Sekarang, bagaimana Sang Pemimpin bersih ini akan menyapu lantai kotor dan retak dengan sapu yang kotor dan rusak? Selain lantainya tidak akan bersih, perlahan tapi pasti moral dan semangat Pemimpin tersebut juga akan turun.
Nah, jadi kalau memakai analogi di atas, menurut saya calon Pemimpin yang saya dambakan dan saya pikir layak untuk memimpin Bangsa Indonesia adalah Pemimpin yang memiliki nyali untuk memusnahkan sapu yang rusak dan kotor tersebut dan segera menggantinya dengan sapu baru yang bersih dan berfungsi dengan baik, serta menghancurkan bagian-bagian lantai yang sudah retak dengan keping lantai yang baru.
Setelah berada dalam tahun kesepuluh sejak 1998, saya baru sadar ternyata biaya yang mau tidak mau Bangsa ini keluarkan untuk sesuatu yang katanya Reformasi adalah sangat mahal dengan hasil yang tidak sebanding. Apa yang kita lihat sekarang adalah proses penumpasan para Koruptor yang seolah-olah dilakukan secara besar-besaran ternyata masih kalah jauh dari proses pembibitan para calon Koruptor yang lebih ahli, raja-raja kecil yang mengatasnamakan otonomi daerah menjadi demikian tidak tahu malunya menjadi tikus-tikus raksasa yang memangsa tidak hanya makanan melainkan tubuh rakyatnya sendiri, kelompok-kelompok berwawasan picik berkedok apa pun yang dengan lantangnya menyerukan penggantian Dasar Negara Pancasila dan UUD 1945 yang merupakan fondasi penopang keutuhan Rumah Bangsa ini.
Saya jadi ingat nasihat seorang teman saya yang berprofesi sebagai kontraktor, kalau kerusakan rumah sudah parah, biaya renovasinya bisa jadi jauh lebih mahal dari pada membangun rumah baru di atas fondasi yang sama.
Mungkin untuk ini biayanya akan mahal, tapi akan menjadi sangat murah apabila dibandingkan dengan resiko kehancuran Bangsa Indonesia, Pancasila dan UUD 1945 yang seharusnya kita pertahankan karena itulah yang menjadi titik kesepakatan lahirnya Bangsa dan Negara Indonesia oleh Founding Fathers kita yang bersemangatkan pluralisme dalam semua aspek namun satu dalam tujuan mulia.
March 19, 2008 at 4:08 am
Feisal Assegaf
Pemimpin Berwawasan Global
Oleh : Feisal Assegaf
Seorang pemimpin yang memiliki tanggung jawab besar, haruslah memiliki pengetahuan yang luas. Unsur ini sangat penting di masa kini. Mengapa demikian ? …… Agar dapat berubah lebih cepat dalam persaingan yang ketat dan cepat dimana lingkungan yang sangat tidak pasti untuk ke depan, pemimpin harus mampu berfungsi sebagai katalis dalam problem solving, toleran terhadap resiko, berfikir dalam gambaran keseluruhan dengan keahlina teknis yang menonjol, Focus dalam mengembangkan hal-hal yang tidak terukur, Memiliki keterampilan non teknis dan pengetahuan lintas fungsi/antar disiplin seperti matematika, logika, sejarah, filosofi, sastra dan bahasa asing serta disiplin ilmu lainnya.
Pemimpin harus memiliki keterampilan dalam mengorganisasikan informasi dengan baik dan mengkomunikasikannya dengan jelas, singkat, dan persuasive, keterampilan untuk menganalisis informasi yang kompleks sampai membuat keputusan yang tepat berdasarkan pendekatan secara logis. Biasanya seorang pemimpin akan mencari solusi atau jawaban yang terbaik, bukan jawaban yang ingin kebanyakan didengar oleh karyawan/bawahan.
Seorang pemimpin yang hebat biasanya juga “knowledge worker” yang seringkali memiliki pengetahuan antardisiplin dan memiliki pengalaman, serta secara bersamaan menerapkan pengetahuan yang berasal dari beberapa bidang untuk memecahkan masalah. Mereka seringkali dapat mengkombinasikan pengetahuan yang berbeda-beda, seperti bisnis dan teknologi.
Pemimpin masa depan juga harus mengerti visi organisasi yang spesifik dan berperan untuk bisa melihat dan merespons kebutuhan organisasi.
Jadi pada intinya seorang pemimpin masa depan apabila ingin efektif, maka diperlukan lebih banyak pengetahuan yang bersifat menyeluruh — tidak perlu menjadi ahli, tetapi setidaknya cukup mengenal dengan baik untuk dapat menjawab pertanyaan yang tepat dari orang lain, memecahkan masalah dengan cerdas, serta membuat keputusan yang tepat yang didasari pada proses yang logis.
Feisal Assegaf
Konsultan SDM dan Perencana Kehumasan
September 30, 2008 at 3:53 am
Rudi Johar
Rasanya smakin sulit untuk menentukn pilihan2 calon president kita. Pasalnya mereka yang saat ini ramai di bicarakan nyalon president, start awal kareirnya ndak jelas. Recruitment politik kita, tidak perfect, perundangan kita ngga jelas…pimpinan2 kita tak tain dan tak bukan pimpinan ujug2.
Kayanya pemilu 2009, saya mau jadi penonton yang baik saja lah, darioada repot repot.
Atau kalau ada yang nawarin pindah kewarganegaraan, mikir juga tuch..dari pada bereda didalam ketidak pastian. Mendingan hijrah. Masih banyak lahan Tuhan untuk beramal sholeh.