Jakarta, Kompas 10/6/2006- Sebanyak 88 orang dari berbagai latar belakang, Jumat (9/6), mendeklarasikan Perhimpunan Nasionalis Indonesia disingkat Pernasindo. Ikut menandatangani deklarasi antara lain mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) Wiranto dan mantan Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Kwik Kian Gie yang juga Ketua Presidium.

Kwik menjelaskan alasan pendirian Pernasindo antara lain karena rakyat Indonesia selama ini sudah dibodohi. Bahkan, bentuk pembodohan itu sudah merasuki opini publik, yang sesungguhnya diketahui sama sekali tidak benar. “Perhimpunan Nasionalis Indonesia hadir untuk memberikan pencerahan kepada rakyat Indonesia,” kata Kwik.

“Kita menyaksikan rakyat dibodohi dengan dicekoki omongan bahwa pembangunan yang dibiayai dari utang itu wajar, dan utang itu sekarang sudah menyengsarakan rakyat,” ujar Kwik.

Untuk melawan pembodohan ini, menurut Kwik, akan dimulai kampanye penyadaran. Kampanye akan mengajak media yang ada. Jika tidak mendapat sambutan, maka akan membuat media kampanye sendiri. “Misalnya dengan menyebarkan pidato penyadaran dalam bentuk kaset rekaman seperti yang pernah dilakukan Imam Khomeini di Iran,” ujarnya.

Dalam pidatonya, Kwik mengatakan, golongan miskin dan termiskin dari rakyat yang jumlahnya besar tidak mampu mencemaskan keterpurukan dalam kehidupan bernegara dan berbangsa. “Kondisi fisik yang lemah karena kekurangan gizi, sudah ada busung lapar, dan kekurangan pelayanan kesehatan yang minimal,” ujarnya.

Menurut Kwik, yang bersalah adalah elite bangsa yang menjual kemerdekaan, yang menjadi kroni, komprador dari bangsa yang mengisap bangsa Indonesia.

Menjawab pertanyaan wartawan, Wiranto mengatakan, meskipun perhimpunan itu bukan organisasi politik ataupun akan menjadi parpol, orang di dalamnya banyak yang berafiliasi dengan partai politik.