Lazimnya Ketua Umum sebuah Partai Politik, dalam setiap menghadapi Pemilihan baik untuk Pemilu maupun Pilkada, maka ketua partailah yang biasanya dicalonkan untuk menduduki jabatan-jabatan strategis itu tadi. Ini karena memang misi sebuah partai harus di jalankan, untuk mengoalkan cita-cita partainya (Political endeavor). Dalam menghadapi Pilgub April 2008 ini, jauh-jauh hari PDI-P Jawa Barat, telah sepakat, bulat dan mufakat, kalau ketua umumnya, Rudy Harsya Tanaya, maju untuk menjadi calon wakil Gubernur Jawa Barat periode 2008~20013, dengan ditetapkan oleh Rakerda Khusus – PDI-P Jawa Barat, yang kemudian di syahkan oleh sebuah keputusan DPP PDI Perjuangan, yang ditanda tangani langsung oleh ketua umunya, Megawati Sukarno Putri.Namun dalam perjalanan persiapan Pilgub tersbut, tiba-tiba hadirlah sosok Agum Gumilar, yang juga di membawa mandat dari DPP PDI-P Pusat untuk maju sebagai calon Gubernur Jawa Barat yang berdampingan dengan Nukman Abdul Hakim sebagai calon wagubnya. Disini kita melihat ada semacam in consistency internal PDI-P, antara hasil Rakerdasus dan keputusan DPP PDI-P Pusat, mengenai persoalan pencalonan ini. Tulisan ini tidak akan mengupas soal masalah tersebut. Karena memang persoalan ini tidak muncul ke permukaan secara formal. Rudy Harsya Tanaya lah, yang membuat situasi ini, mejadi seperti saat ini!.

AMPI ingin menggali, apa sebenarnya yang ada dalam benak Rudy HT dan kebesaran Jiwanya dalam menyikapi jlimet politik ini. Sosok Rudy Harsya Tanaya ini, menjadi semakin menarik kita dalami, karena banyak hikmak dan pelajaran yang bisa kita petik serta teladan figur politik yang ada pada dirinya. Ketika dipancing mengenai masalah pencalonan yang seolah-olah di caplok Agum, beliau hanya mengatakan; “ saya taat pada putusan DPP dan mengutamakan kepentingan partai diatas kepentingan dan harga diri, adalah lebih penting bagi saya”. Sikap inilah yang kemudaian menjadi suasana PILGUB menjadi kondusif, sementara RUDY tetap menjalan roda partai dengan penuh semangat dan tangung jawab, walaupun tidak ada bargaining apapun dengan Agum Gumilar yang didukungnya bila kelak pasangan ini keluar sebagai pemenang. Beliau hanya menambahkan; “ kalau Agum-Nukman kalah, PDI-P lah yang menanggung malu, jadi kita harus fight dan all out memenangkan pertarungan ini”.

Sosok Rudy Harsya Tanaya, dengan segala kerendahan hatinya, tampil dalam keseharianya dalam posisi yang “basajan” atau apa adanya. Tidak kelihatan angkuh apalagi sombong, kecuali ia akrab dengan siapa saja yang menjadi lawan bicaranya. Kejujurannya muncul manakala ia tidak tahu atau tidak mengerti terhadap suatu masalah, ia hanya mengatakan; “ saya perlu mendalaminya”. Kesetian dan ketaatan kepada DPP PDI-P pusat, tidak perlu disangsikan lagi, tetapi mengayomi kepada para ketua PDIP yang ada di tingkat kabupaten dan kota pun, menjadi sikap dan kepribadiannya sehari-hari dan kecintaan kepada partainya adalah jalan hidupnya. Inilah jiwa Marhaen!. Bravo kang…