Walau Pemilu Indonesia  baru akan dilaksanakan pada tahun 2009 mendatang, akan tetapi hingar bingar pencalonan Presiden RI, kini mulai menghangat. Bermunculanlah pemain-pemain lama, seperti Gusdur, Megawati, Amin Rais, Wiranto, Probowo Subianto, Yusril Ihza Mahendra dan Sri Sultan. Ada juga calon baru seperti Sutiyoso, Herma Saren Sudiro dll. Menyikapi situasi seperti ini, tentu saja kita memandang syah-syah saja. Akan tetapi munculnya nama-nama tersebut diatas, karena memang tidak jelasnya landasan hukum yang mengatur mengenai criteria dan sistim recruitment calon presiden kita. Sehingga polemik Gusdur dengan issue kesehatannya, akan terus menjadi alat untuk menjegal pencalonan dirinya. Megawati dengan persoalan gender dan atau latar belakang Pendidikannya, sekarang kini mulai di ungkap lagi, sehingga akhirnya Megawati terekam angkat bicara seperti ini :

Mantan Presiden Megawati Soekarnoputri terus menyatakan seorang presiden tak harus sarjana. Alasannya, nabi saja bukan seorang sarjana. “Nabi saja seorang pemimpin, tapi nggak sarjana kok. Pemimpin jangan hanya dari kalangan elit saja. Itu kembali kepada rakyat. Jangan hanya politisi itu yang menguasai elit saja,” ujar Megawati. Dia mengatakan itu saat memebri sambutan dalam pelantikan pengurus daerah Baitul Muslimin (Bamus) I Provinsi Jakarta dan peresmian Pondok Pesantren Nurul Musthofa, di Jalan Raya Ciracas, Jakarta Timur, Minggu (16/3/2008). Ditegaskannya kembali, mengenai siapa yang berhak menjadi pemimpin negeri ini harus sesuai kehendak rakyat. “Saat ini sedang dipolemikkan jadi presiden harus seorang sarjana. Karena saya bukan seorang sarjana, jadi saya kembalikan pilihan kepada rakyat. Jangan kita lupakan kewenangan utama hak di tangan rakyat,” tutur istri Taufik Kiemas ini.

Pak Wiranto so pasti akan dituding dengan pelanggaran HAMnya. Yusril Ikhja Mahendra akan dicari hingga terungkap soal transfer uang Tommy Suharto. Walau SBY masih popular untuk presiden mendatang, tapi nanti akan dikeroyok oleh sejumlah issue seperti Presiden yang penuh dengan bencana termasuk didalamnya soal Lapindo, angka kemiskinan yang terus meningkat, harga bahan pokok yang tidak terkendali dan terus merangkak, dlsb.

Sekali lagi, persoalan ini muncul disebabkan karena masalah yang sangat substansial, yaitu persoalan konstitusi kita yang terlalu lemah. Kalau kita memiliki pedoman hukum yang jelas, maka persoalan pemilihan pemimpin negara kedepan tidak akan mengarah kepada saling tuding menuding mengenai berbagai kelemahan pribadi para calon presiden. Karena hal ini telah menjadi pendidikan politik perpecahan bagi rakyat, menjadi tidak dewasa alias childish dan tidak mencerminkan bangsa yang besar. Rakyat telah dibawa kealam emosi irasional atau tidak dibawa kepada iklim akal sehat. Jangan terjadi lagi orang memilih SBY karena dia tinggi dan besar!.

Coba perhatikan bagaimana seseorang bisa menjadi kadindat Presiden di Amerika, mereka harus melalui karier politik dan jabatan yang jelas juga melalui berbagai tahap yang harus dilaluinya, seperti pernah menjadi senator, gubernur atau jabatan-jabatan lainnya yang sejajar. Jadi siapapun yang muncul adalah mereka yang telah tersaring melalui system yang ketat. Hillary Clinton misalnya, muncul bukan karena populeritas atau karena ia bekas Ibu Negara alias  istri Bill Clinton, akan tetapi ia adalah pejabat Gubernur. Untuk menjadi calon presiden ia harus meniti karir dari yang paling bawah, kemudian harus tercatat dan memperlihatkan sejumlah prestasi kepada bangsanya, dan ia juga kini masih harus bersaing dengan sesama calon president Baract Obama dari partainya sendiri melalui voting awal. Bukan calon ujug-ujug!!!