Bila kebetulan melintas di depan kantor Dinas-dinas di Provinsi Jawa Barat, seringkali kita temui berbagai Billboard dengan berbagai tulisan, motto atau slogan-slogan lainnya, disertai photo Gubernur Danny Setiawan dalam ukuran yang besar. Ada juga terpampang Billboard ucapan selamat datang kepada para peserta MTQ di Kota Bandung, dengan photo Gubernur Danny Setiawan dan Wailkota Dada Rosada. Ada juga spot iklan TV, untuk mensukseskan Pemilihan Gubernur Jawa Barat, dimana Danny Setiawan sendiri yang menjadi figurnya. Spot iklan TV itu, mengajak Para pemilih Jawa Barat untuk menentukan pilihannya sesuai dengan hati nurani. Tiba-tiba juga anda bisa melihat tayangan klip, Danny Setiawan menyanyi lagu Sunda, themanya kira-kira adalah soal pembangunan dan persatuan. Sudah pasti biaya produksi dan biaya tayang, adalah menjadi beban biaya APBD Jawa Barat. Bila kemudian kita bertanya pada nurani kita, apa arti semua ini?

Kalau iklan-iklan itu inherent didalamnya menkampanyekan Danny Setiawan, maka beliau sudah mencuri start Kampanye?!. Bila itu dibiayai oleh APBD, maka ini artinya Danny Setiawan telah menggunakan biaya Negara untuk kepentingan pribadi. Mengapa harus ada dua spot iklan Pilkada, yang satu di produksi oleh KPUD Jawa Barat dan yang satu oleh (?), yang figurnya “Danny Setiawan”. Mengapa harus ada Billboard di depan kantor dinas-dinas Provinsi itu? AMPI tidak melihat manfaat langsung antara slogan-slogan yang ditampilkan dan photo Danny Setiawan dengan program-program yang sedang dilaksanakan oleh dinas-dinas tadi, kecuali hanya Kampanye Danny Setiawan!.

Calon Gubernur Danny Setiawan juga mengungkapkan kekayaannya pribadinya sebesar (lupa persisnya) kira-kira antara 6 sd. 7 Milyar Rupiah. Seingat saya, Danny Setiawan ini, karirnya di mulai dari pegawai Negeri Sipil yang paling rendah. Rasanya hinga setengah abadpun menjadi PNS, tidak akan pernah mungkin dapat kekayaan even hingga 1 Milyar Rupiah. Bisa makan satu bulan penuh pun, bila mengandalkan dari Gaji tok, tidak akan pernah mencukupinya, padahal ia menjadi gubernur baru akan 5 tahun. Berapa sih gaji Gubernur? Beliau juga pernah mengembalikan uang sebesar 250 juta yang pernah ia terima dari proyek kavling gate yang kemudian telah bergulir menjadi perkara hukum, tetapi terlepas dari perkara hukum tersebut. Siapa yang percaya kalau Gubernur, Bupati atau Walikota bersih dari Korupsi?!.

Selama Danny Setiawan menjabat sebagai Gubernur Jawa Barat, tidak pernah masyarakat Jawa Barat merasakan hasilnya yang signifikan, kecuali kemiskinan semakin besar, tingkat kesehatan masyarakat rata-rata semakin tidak baik, dan pendidikan semakin mahal. Indikatornya IPM Jawa Barat, ada pada peringkat ke 16, hanya angka Korupsi saja yang rankingnya paling atas. Sebenarnya patut di duga kalau nilai raport Gubernu Danny banyak merahnya. Pasalnya karena beliau terlalu lama jadi seorang birokrat. Wawasan dan kemampuan berfikirnya hanya berkutat disekitar Gedung Sate saja. Padahal figure seorang Gubernur Jawa Barat, apalagi dengan segudang permasalahannya, harus memiliki kemampuan berfikir yang Lateral, bukan linear. Perlu gebrakan-gebrakan program yang menjadi pemicu sector-sektor pembangunan lainnya. Perlu program-program instant untuk menyelesaikan masalah korupsi, kemiskinan, kesehatan, pendidikan dan penghutanan kembali hutan-hutan Jawa Barat yang hampir musnah. Kehadirannya sebagai sosok seorang Gubernur yang serba tahu hingga ke detail masalahnya, karena terlalu lama jadi birokrat, Danny Setiawan seharunya bagian dari Solusi, bukan bagian dari masalah itu sendiri.

Persoalan-persoalan Jawa Barat saat ini, bila hal ini salah kebijakan atau deviasi operasi dilapangan, tentu saja tidak bisa kita menyeret Danny Setiawan kearena hukum, karena tidak ada payung hukumnya. Satu-satunya untuk percepatan penyelesaian masalah di jawa barat adalah, adanya perubahan total. Ini artinya jangan memilih lagi Danny Setiawan!. Ari kamari kamana bae kang?