Pilkada Jabar yang akan berlangsung pada tanggal 13 April 2008 yang akan datang adalah Pilgub yang pertama kali sepanjang sejarah bangsa, karena Calon Gubernur dan wakilnya dipilih secara lansung oleh Rakyat. Yang menarik kita tela’ah adalah, justru para calon Gubernur Jawa Barat tersebut, datang bukan dari kader Partai. Kader-kader partai politik malah justru tidak ada yang berani untuk mencalonklan menjadi Gubernur Jawa Barat. Para Ketua Partai Politik Daerah , malah paling banter memposisikan diri sebagai calon wakil gubernur saja. Danny Setiawan yang kembali mencalonkan diri adalah PNS sejati yang di usung oleh Partai Golkar Jawa Barat. Pada awal proses pencalonan sempat alot, karena Uu Rukmana ketua Umum Golkar Jawa Barat saat ini, melirik juga menjadi calon wagub Jawa Barat. Sementara calon wakil Gubernur Jawa Barat Mayjen Iwan Sulanjana, ex Pandam III Siliwangi, tiba-tiba maju diusung oleh Partai Demokrat Jawa Barat. Rudy Harsya Tanaya, yang dicalonkan oleh PDI-P Jawa Barat, berdasarkan hasil Musyawarah khusus PDI-P Jawa Barat, malah akhirnya mencalonkan Jenderal (Purn.) Agum Gumilar, berdampingan dengan Nukman Abdul Hakim, ketua PPP Jawa Barat dan didukung oleh koalisi 5 partai lainnya. PKS yang memiliki raihan suara yang signifikaan di Jawa Barat pada Pemilu yang lalu mencalonkan Ahmad Heryawan, ini memamg Kader PKS dan berdampingan dengan Dede Yusuf, artis kita, yang didukung oleh PAN.

Munculnya calon-calon diluar gelandang ini, karena memang peraturan perundang-undangan kita memungkinkan terjadinya seperti ini. Inilah yang kemudian menjadi persoalan kepemimpinan dan perpolitikan di Indonesia saat ini. Baca artikel lain mengenai Calon-Calon Presiden di page terpisah. Persoalan lain, beratnya permasalahan yang harus dihadapi oleh Gubernur terpilih mendatang di Jawa Barat saat ini seperti persoalan kemiskinan yang angkanya sangat fantastis. Masalah Kesehatan yang complicated, bukan saja menyangkut masalah structural, akan tetapi persoalan-persoalan yang mendasarpun sangat menonjol di Jawa Barart ini, seperti kualitas Sumber Daya tenaga Kesehatan dan managemen pelayanan yang amburadul. Pardigma para pengambil keputusan di tenaga Kesehatan Jawa Barat, sangat beragam. Disadari atau tidak bahwa penyebab masalah kesehatan di Jawa Barat ini, sebenarnya disebabkan oleh lifestyle, sementara arah pembangunan kesehatan lebih focus kepada fisik. Korupsi yang sudah melekat dalam setiap aktiftas pembangunan dan sindikasi dengan berbagai elemen lainnya sehingga bagaikan sebuah system. Masalah Infra struktur yang sangat jelek sehingga tidak kondusif dalam konteks pembangunan ekonomi Jawa Barat termasuk di dalamnya iklim investasi yang tidak baik karena dihadang oleh berbagai kendala, sepeti perijinan, perburuhan dan high cost economy lainnya. Rendahnya angka IPM Jawa Barat, no.16, adalah karena problema memahami konsep strategi dan management pembangunan daerah itu sendiri, disamping ketidak seriusan para pengambil keputusan dan pelaksana program pambangunan. Penggundulan hutan dan alih fungsi hutan yang semakin merajalela, menyebankan perubahan ecosystem yang hampir tidak mungkin dapat kembali di pulihkan karena nonrenewable.

Padahal kita tahu bahwa Jawa Barat, dikenal dengan segudang para ilmuwannya yang bermukin di kota Bandung. Potensi Sumber Daya Alamnya melimpah ruah. Penduduknya paling banyak bila dibandingkan dengan propinsi lain. Karena itu mind set kita saat ini seharusnya berubah, manakala menyaksikan China bisa menjadi Negara paling maju di dunia saat ini, karena semata-mata didukung oleh potensi sumber daya manusianya yang banyak. Nah seyogyanya pulalah Jawa Barat dengan jumlah penduduk lebih dari 40 juta itu harus bisa diberdayakan untuk menjadi propinsi tersejahtera di Indonesia. Letak geografis yang paling dekat dengan Ibu Kota adalah menfaat lain bagi pertumbuhan economy dan bisnis. Masih banyak factor dan aspek aspek lain, yang memungkinkan Propinsi Jawa Barat, menjadi propinsi termaju di persada nusantara ini. Namun sayang sekali Gubernur Danny Setiawan, tak faham membawa Jawa Barat menjadi propinsi yang makmur itu.

Kembali ke persoalan Pilkada, yang menarik lainnya dari Pilkada Jawa Barat ini, adalah soal koalisi berbagai kubu partai yang asalnya musuh bebuyutan, atau saling berseberangan dalam berbagai kepentingan politik/political endervouse . Walau kita sudah meninggalkan aspek ideologis dalam kehidupan berpolitik, namun nafas dan jiwa ideologis itu masih melekat utuh bagi simpatisan parpol tertentu. Karena kesetiaan orang kepada partai tertentu, factor dominannya adalah ideologis tadi. Sekarang mari kita lihat seperti ini, coba Perhatikan Agum Gumilar diusung oleh PDI-P (Nasionalisme) dan Nu’man Abdul Hakim diusung oleh PPP dan partai-partai islam lainnya (Islamisme). Sementara Danny Setiawan dan Iwan Sulanjana adalah koalisi partai Golkar dan Demokrat ( Sekularisme ). Ahmad Heryaman dan Dede Yusuf juga sinergi dua partai Islam yaitu PKS dan PAN (Islamisme). Maaf pembaca boleh berbeda pandangan dengan penulis, tapi ini adalah feeling dan pandangan personal.

Bila kita berandai-andai, umpamanya pasangan Danny & Iwan (Golkar-Demokrat) unggul, maka sekularisme yang eksis. Bila Agum & Nu’man menang, maka Nasionalis dan Islamisme yang muncul. Tetapi bila Ahmad Heryawan dan Dede Yusuf meraih suara terbanyak, maka ini artinya Islamisme unggul. Sekedar catatan, bahwa suara partai tidak identik dengan suara figure tertentu. Ini Terjadi ketika SBY memenangkan Piplres. Walau partai Demokrat bukan partai pemenang dalam Pemilu yang lalu, tetapi SBY bisa unggul dari Megawati. Sementara di daerah-daerah juga raihan pilihan baik Bupati/walikota dan Gubernur, sangat berfariatif. Inilah realitas politik yang baru di Indonesia, yang sangat sulit dapat di prediksikan. Sementara Figure-figure calon pemimpin di Indonesia saat ini dipilih oleh rakyat karena factor-faktor seperti popularitas, gender, agama, suku/etnis, personaliti. Patut disayangkan seseorang yang dipilih oleh masyrakat pemilih kita, sangat ditentukan oleh factor-faktor yang sifatnya subjectif. Inilah ciri kehidupan demokrasi yang masih seumur buah jagung itu. Tawaran program hampir tidak pernah menjadi daya tarik pemilih. Kita masih ingat Ibu-ibu memilih SBY dulu karena beliau orangnya tinggi dan besar!.