Laporan Wartawan Perda Netwok, Hadi Santoso (Kompas.com)
JAKARTA, RABU — Kesuksesan duet muda, Ahmad Heryawan-Dede Yusuf (HaDe) dalam Pilkada Jabar memberi pelajaran bagi sejumlah partai politik. Salah satunya adalah PDI Perjuangan. Sekretaris Jenderal (PDIP), Pramono Anung menegaskan bahwa pelajaran yang bisa diambil dari Pilkada Jabar adalah masyarakat sekarang ini lebih cenderung memilih calon yang muda dan lebih segar.

“Kalau kita lihat sekarang ini, masyarakat memang tengah membutuhkan harapan baru, dan harapan baru itu selalu ada pada generasi berikutnya,” ujar Pramono Anung di sela-sela peluncuran buku Sukardi Rinakit berjudul “Tuhan Tidak Tidur” di Hotel Four Seasons, Jakarta, Rabu (16/4) siang.

Karena itu, faktor yang muda yang berjaya itu disebut Pramono akan masuk sebagai salah satu pertimbangan PDIP dalam memunculkan kandidat yang akan maju dalam Pemilihan Presiden 2009 mendatang. Namun, lanjut Pramono, pos untuk orang muda itu tentunya hanya sebagai Cawapres karena untuk posisi Capres, PDIP sudah mengusung Ketua Umum mereka, Megawati Soekarnoputri.

Lebih jelasnya, Pramono dengan tegas menyebut bahwa PDIP akan mencari orang muda untuk disandingkan dengan Ketum PDIP, Megawati Soekarnoputri pada Pilpres 2009. “Itu (usia muda) tentunya menjadi salah satu ukuran bahwa nantinya, ketika kita memutuskan Cawapres pendamping Bu Mega pada bulan November di Solo, maka itu juga menjadi salah satu pertimbangan, ” sambung Pramono.

Terkait siapa sosok muda yang tengah diincar PDIP sebagai pendamping Mega, Pramono belum menyebut nama. Menurutnya, sosok muda itu sekarang ini belum muncul. Hanya, Pramono menyebut bisa belajar dari Pilkada Jabar.

“Mengenai siapa figur muda, kalau kita lihat sekarang memang belum muncul. Tapi dari Pilkada Jabar, ternyata itu bisa dicreate,” lanjut dia. Dan, untuk urusan menciptakan tokoh tersebut, Pramono sangat yakin dengan kemampuan mesin politik partai banteng bermoncong putih itu.

“Itu karena mesin politik PDIP termasuk mesin yang bisa melakukan itu. Sebab, kita punya basis sampai dengan akar rumput, itulah yang menjadi hal yang akan kita perhatikan,” sambung pria berkacamata ini.

Lebih lanjut, Pramono setuju dengan analisis Sukardi Rinakit, pengamat politik yang juga Direktur Soegeng Sarjadi Syndicate bahwa sekarang ini, parapol-parpol besar dihadapkan pada politik tanding. Artinya, keinginan untuk melawan partai-partai besar. Tapi saya tetap berkeyakinan bahwa modal utama dalam Pemilu adalah mesin politik partai dan yang kedua adalah citra calon yang bersangkutan, ” lanjut dia.