ANTARA/WIDODO

JAKARTA–MI: Mantan Ketua DPR Akbar Tandjung mengatakan Indonesia ke depan membutuhkan pemimpin yang transformasional, yang mampu membawa perubahan lebih baik dan mendasar bagi bangsa ini.

“Ke depan kita membutuhkan pemimpin yang tranformasional. Pemimpin yang memberikan seluruh pengabdian untuk kepentingan rakyat,” kata Akbar saat berpidato pada peringatan “Seabad Kebangkitan Nasional” yang digelar sebagai acara puncak Munas Alim Ulama dan Halaqah Kebangsaan PKB di Ciganjur, Jakarta Selatan, Selasa (20/5).

Menurut Akbar, saat ini begitu banyak problema yang dihadapi bangsa ini. Rakyat susah menaikkan taraf hidup, pendidikan layak susah didapat meski konstitusi mengamanatkan 20 persen APBN harus dialokasikan untuk pendidikan, kesehatan juga masih menjadi persoalan.

Di bidang sosial masih saja terjadi perilaku intoleransi, tidak menghargai kemajemukan. Sementara itu politik masih berorientasi pada kekuasaan, belum mengarah pada upaya menyejahterakan rakyat.

Sementara itu Ketua Komite Bangkit Indonesia Rizal Ramly mengatakan bangsa Indonesia harus menghindari pemimpin yang bersifat transaksional yang sibuk dalam kegiatan tawar-menawar, sementara rakyat hidup serba kesulitan. “Dalam sepuluh tahun terakhir banyak yang bunuh diri, padahal bunuh diri itu masuk neraka. Kenapa mereka lebih pilih masuk neraka daripada tinggal di Indonesia?” katanya.

Ketua Umum DPP PKB hasil Muktamar Luar Biasa (MLB) Parung Ali Masykur Musa menyatakan, momentum seabad kebangkitan nasional harus menjadi inspirasi bagi penancapan tonggak reformasi jilid kedua, karena reformasi jilid pertama belum membuahkan hasil yang memuaskan.

“Hari ini Gus Dur bersama tokoh bangsa dan ulama ingin menancapkan tonggak reformasi tahap dua,” kata Ali Masykur saat memberikan sambutan pada acara yang digelar di halaman Pondok Pesantren Al Munawarah, di dekat kediaman Ketua Umum Dewan Syura PKB Abdurrahman Wahid (Gus Dur) tersebut. (Ant/OL-03)