Penulis : Ita Malau
JAKARTA–MI: Partai politik (parpol) saat ini menghadapi dilema. Di satu sisi, krisis kepercayaan dari masyarakat kian kuat.

Ketua Umum DPP Soksi Syamsul Maarif mengatakan kepercayaan publik terhadap parpol mencapai titik nadir. “Tapi, masalahnya sistem negara kita adalah sistem demokrasi dimana di setiap kehidupan kenegaraan harus ada parpol,” kata Syamsul dalam Rapimnas II dan Rakernas II Soksi-salah satu ormas Partai Golkar- di Jakarta, Minggu (18/5).

Dilema itu, menurut Syamsul, harus dijawab oleh parpol dengan pembaharuan internal agar bisa memperoleh kepercayaan publik kembali. “Kita tidak bisa salahkan rakyat yang merasa bosan dengan performance parpol,” tambahnya.

Diperparah lagi oleh tingkah laku para pemimpin baik di pusat atau daerah yang tidak melaksanakan janji-janji kampanye saat masih calon pimpinan. “Kampanye janjinya akan mensejahterakan rakyat dengan pelayanan publik. tapi, ketika jadi kepala daerah, APBD habis hanya untuk biaya rutin. infrastruktur tidak terpelohara. Puskesmas tidak terawat,” katanya.

Akibatnya, 100 tahun perayaan Kebangkitan Nasional dan 10 tahun reformasi, negara belum

berhasil sejahterakan rakyat. Oleh karena itu, menurutnya, parpol harus bisa menjawab aspirasi masyarakat berupa implementasi.

Dalam kesempatan sama, Pendiri Soksi Suhardiman mengatakan saat ini sulit sekali menemukan pemimpin nasional. “Kebanyakan cuman bisa jadi pemimpin kelompok atau golongan. Belum ada pemimpin nasional,” jelasnya. (Dia/OL-03)