Jakarta, Kompas – Langkah sejumlah tokoh politik yang mengiklankan dirinya di media massa merupakan bentuk kecurangan kepada masyarakat. Sebab, lewat iklan itu masyarakat tak dapat menilai kapasitas seseorang.

”Lewat iklan itu, masyarakat hanya diajak untuk memilih orang yang populer. Ini menjebak rakyat karena pemimpin tidak cukup bermodalkan popularitas. Dia harus memiliki pengalaman dan terbukti teruji,” kata pengamat politik dari Universitas Indonesia, Arbi Sanit, Rabu (21/5).

Dia menanggapi aktivitas sejumlah tokoh politik atau masyarakat yang belakangan gencar mengiklankan dirinya di berbagai media massa. Tokoh itu antara lain Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) Soetrisno Bachir dan Ketua Umum Partai Hati Nurani Rakyat Wiranto.

Menurut Arbi, iklan serupa juga banyak dilakukan di negara lain, misalnya Amerika Serikat. Di negara itu iklan tersebut hanya pelengkap karena mereka melakukan konvensi hingga seseorang harus mendatangi dan berdialog dengan rakyat.

”Namun, di Indonesia, iklan membuat orang dapat berubah citra dalam waktu singkat. Seharusnya, orang itu juga harus membuktikan kemampuannya, misalnya membuat partainya memenangi pemilu,” kata Arbi.

Ironisnya, iklan oleh aktivis parpol terbukti efektif memengaruhi rakyat. Ini terlihat pada Pemilu 2004. ”Momen itu (Pemilu 2004) yang memancing adanya kesalahan jalan politik kita, terutama lewat iklan,” ucapnya.

Menurut Koordinator Program Magister Komunikasi Politik Universitas Indonesia Effendi Gazali, iklan politik itu merupakan cara paling gampang bagi politisi untuk membuat publik tahu tentang dirinya. ”Bila politisi ingin ikut kembali dalam pemilu legislatif atau pemilu eksekutif, masyarakat sudah mengenal politisi itu,” katanya.

Menurut dosen Universitas Paramadina, Bima Arya Sugiarto, iklan politik merupakan perkembangan demokrasi yang wajar. Hanya saja, dalam konteks Indonesia, iklan itu harus dipasang secara bijak. ”Jika tidak, bukan saja target yang diinginkan tidak tercapai, tetapi justru makin memapankan image negatif,” lanjutnya.

Secara terpisah, Soetrisno Bachir mengatakan, PAN dan kader yang dimilikinya memang harus mempromosikan diri. Apalagi, sistem pemilihan presiden langsung mengharuskan seseorang harus dikenal luas masyarakat sebelum rakyat menentukan pilihan.

Sementara Wiranto menyangkal jika iklan tentang kemiskinan yang dibuatnya belakangan ini bertujuan politis. ”Memang ada yang menghubungkan dengan politik. Itu terserah saja. Namun pasti tidak akan ketemu,” ujarnya.

Dia bertekad akan terus beriklan tentang kemiskinan tersebut.
(NWO/MZW/MAM)