Penulis : Ferdinand
KARANGANYAR–MI: Dugaan praktek politik uang menodai pemilihan calon gubernur dan wakil gubernur Jawa Tengah di Kelurahan Gajahan, Kecamatan Colomadu, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, Minggu (22/6).

Dari informasi yang berhasil dihimpun dari sejumlah warga, pelakunya adalah oknum Kepala Desa Gajahan berinisial Shd (Suhadi) dan seorang warga lain berinisial Sni.

Modusnya dari memberikan uang secara langsung, sampai meminta Kartu Tanda Penduduk (KTP) warga untuk kemudian ditukar dengan uang. Besarannya berkisar antara Rp10 ribu hingga Rp20 ribu per orang.

Salah satu warga yang mengaku telah menerima uang itu dari oknum kades itu adalah Sri Syamsiah. Dia didatangi pagi hari menjelang waktu pencoblosan. “Saya dikasih uang Rp20 ribu. Dengan pesan untuk mencoblos salah satu calon tertentu,” katanya.

Pengakuan senada juga datang dari Mukhlis. Pemuda ini mengaku diberi uang Rp10 ribu dan disuruh untuk memilih pasangan calon tertentu. “Ngasihnya itu tadi malam,” imbuhnya.

Selain Sri dan Mukhlis, masih ada sejumlah warga lain yang juga mengaku diberi uang dengan pesan serupa. Pengakuan warga tersebut dikuatkan salah seorang fungsionaris DPC PDI perjuangan di Kelurahan Gajahan, Gendro. Menurut dia, pihaknya bahkan sudah meminta klarifikasi langsung kepada oknum kades itu.

“Begitu mendapat laporan dari warga, tadi malam kami langsung mendatangi dan meminta klarifikasi kepada yang bersangkutan. Dia sudah mengakui perbuatannya,” jelas Gendro.

Sebagai tindak lanjut, Gendro menegaskan, pihaknya akan melaporkan temuan ini kepada Panwas. Karena apa yang diperbuat oknum kades ini merupakan sebuah pelanggaran serius.

Sementara itu, Shd sendiri saat hendak dikonfirmasi tidak berhasil ditemui. Rumahnya pun terlihat selalu terutup rapat. Informasi yang diperoleh menyebutkan sejak disidang warga tadi malam, sang oknum kades tidak lagi terlihat batang hidungnya. (FR/OL-2)