JAKARTA, SENIN – Ketua Fraksi Partai Golkar DPR, Priyo Budisantoso berkeyakinan, partainya masih digdaya sampai sekarang ini. Kepada para wartawan di DPR, Senin (23/6) ia menolak bila kekalahan Golkar secara beruntun dalam pertarungan Pilkada di beberapa daerah, sudah menjadi prasyarat untuk segera digelar musyawarah luar biasa (Munaslub).

Meski kalah di sejumlah daerah, kata Priyo, Partai Golkar optimis menang 41,2 persen dalam pilkada kabupaten maupun kota. Wacana Munaslub dianggapnya terburu-buru.

“Munaslub belum saatnya dan belum ada alasannya. Kedigdayaan Golkar itu, bukanlah diukur dalam Pilkada tapi harus melalui pelaksanaan Pemilu legislatif. Tapi, kalau memang Golkar di 2009 nanti memang kalah, atau kejelungkup, mau melakukan apapun, ya terserah. Termasuk, kalau mau melakukan Munaslub,” tegas Priyo Budisantoso.

“Tapi, kalau sekarang janganlah, istilahnya kemrungsung. Kita masih menang 41,2 persen dalam pilkada kabupaten maupun kota. Dan sampai sekarang, kita ini juga masih optimistis, karena nanti semua pasti akan bekerja. Yang sudah barang tentu, akan jauh berbeda dengan cara kerja dalam pilkada,” tukasnya.

Kekalahan telak di Pilgub Jateng, makin menambah malu Partai Golkar sebagai pemenang Pemilu 2004. Tercatat, dari Sabang sampai Merauke, jago-jago Golkar seakan tak mendapat restu untuk menjadi pemimpin. Dalam pertarungan Pilgub di Provinsi Bangka Belitung, jago Golkar Hudarni Rani yang berpasangan dengan Ishak Zainuddin kalah. Kemudian, jago Golkar di Sumatera Utara, Jawa Barat, Sulawesi Selatan, Maluku Utara (sedang bersengketa), Nusa Tenggara Timur, Lampung, dan di seluruh provinsi di Pulau Kalimantan.

Menkumham Andi Matallata disela-sela rapat kerja dengan Komisi III DPR mengungkapkan, kekalahan dalam Pilkada Jawa Tengah, tidak bisa dikatakan sebuah kekalahan besar bagi partai. Menurutnya, itu hanyalah kekalahan yang biasa saja karena hanya pada tingkat level gubernur saja.

“Kekalahan besar bagi Golkar itu adalah saat gagal mempertahankan Habibie menjai presiden dan tidak bisa membawa pak Akbar Tandjung sebagai wapres,” tegas Andi Matallata.

Sementara itu, kader Golkar yang lain Ferry Mursidan Baldan kemudian tidak sepakat bila sekarang ini partai harus dituntut menyelenggarakan munaslub.

“Kalah atau menang itu biasa dan tidak perlu panik. Golkar juga belum merasa perlu melakukan radikalisasi perubahan kepemimpinan karena yang ada sekarang sudah sesuai dengan amanat reformasi. Kalau ada yang minta perombakan, itu terlalu berlebihan. Lebih baik, digunakan saja untuk memenangkan Partai Golkar pada Pemilu 2009 nanti,” saran Ferry Mursidan Baldan. (Persda Network/yat)