Me…mai me. Menek mai, ajak Mangku Pastika dari atas panggung dadakan yang dibuat di Sekar Tunjung Centre, Minggu (22/6) malam. Panggung yang dibuat untuk perayaan kejutan ulang tahun ke-57 Mangku Pastika.

Ni Made Ayu Putri (istri Mangku Pastika) menuntun lembut ibunda Mangku Pastika, Ni Nyoman Kinten, naik ke panggung. Mangku Pastika memperkenalkan sang ibu ke ratusan undangan yang memadati halaman Sekar Tunjung Center. Kinten kini telah berusia 88 tahun, tetapi fisiknya masih kuat.

Lima puluh tujuh tahun lalu, kata Mangku Pastika, ibundanya melahirkan seorang diri. Tanpa bantuan bidan, apalagi dokter. Kinten menyiapkan sendiri air panas dan ngad (pisau bambu) untuk persalinannya. Ia kemudian berpegangan pada tali kain yang diikatkan pada kayu yang melintang di langit-langit rumahnya. Sembari menahan rasa sakit, Kinten berjongkok dan sesaat kemudian lahirlah Mangku Pastika. ‘Begitu saya lahir, Meme membersihkan badan saya dari darah dan kemudian mengambil ngad untuk memotong tali pusar. Baru setelah itu menyerahkan saya ke kakek saya,’ kata Mangku Pastika mengenang cerita ibunya saat melahirkannya.

Kinten melahirkan sendirian karena saat itu ia ngambul dari suaminya, Ketut Meneng. Sehingga Kinten memilih pulang ke rumah orangtuanya. Kinten terbiasa tegar sejak masa mudanya. Saat perang kemerdekaan melawan Belanda, berkali-kali pelipis Kinten ditempeli moncong senjata prajurit Belanda yang ingin mengorek keberadaan para pejuang republik. Tak sekalipun Kinten gentar. Tak sekalipun ia membocorkan lokasi rekan-rekannya sesama pejuang.

Hal inilah yang membuat Mangku Pastika merasa sangat dekat dengan ibundanya. Kuatnya kasih-sayang ibu dan anak ini tetap berlanjut hingga saat Mangku Pastika menjadi perwira polisi yang mengemban tugas negara di wilayah-wilayah bergolak.

Menurut Mangku Pastika, di mana pun ia berdinas, di antaranya di Kupang (Nusa Tenggara Timur), di Papua dan di Jakarta atau tempat lainnya, Kinten selalu memaksakan diri untuk mabanten di ruangan yang akan dipakai putranya. ‘Jadi ke mana pun saya bertugas, Meme selalu hadir memberi cinta kasihnya kepada saya. Jadi kalau ada pemilihan supermama, sesungguhnya beliau (memeluk pundak Ni Nyoman Kinten – red) inilah supermama,’ tutur Mangku Pastika.

Rasa hormat dan cinta seorang Mangku Pastika begitu mendalam pada ibunda, Nyoman Kinten. Sehingga Mangku Pastika selalu berusaha menyempatkan diri menemui sang ibu di Buleleng, setiap ada kesempatan. Begitu pula sebaliknya, sang ibu, Nyoman Kinten, begitu mencintai Mangku Pastika.

Dalam film dokumenter tentang Mangku Pastika yang ditayangkan malam itu, ditampilkan reaksi Kinten saat mendengar putranya akan ditugaskan ke Timor Timur. Wanita tegar itu merebahkan tubuhnya ke belakang karena saking terkejutnya. ‘Saat saya diberi tahu anak tiang, Mangku ke Timor Timur, tiang langsung makesiab,’ katanya.

Sembari tersenyum haru, Mangku Pastika menatap wajah ibundanya. ‘Karena itu, Meme adalah orang yang mendapat tempat paling terhormat dalam hidup saya,’ tegas Made Mangku Pastika.

Puncak acara HUT ditandai dengan peniupan lilin dan pemotongan kue ulang tahun. Potongan kue ulang tahun itu pun oleh Mangku Pastika dengan mesra disuapkan ke Ayu Putri (istri Mangku Pastika), setelah itu menyusul disuapkannya ke ketiga putra-putrinya — Sandoz, Sari, Wira dan cucu-cucunya. Tepuk tangan panjang dari undangan seperti Cok. Ratmadi, Puspayoga menggema untuk merayakan kelahiran Mangku Pastika dan utamanya, untuk menyampaikan rasa hormat kepada Ni Nyoman Kinten, yang seperti ibu-ibu Bali lainnya, adalah teladan indah tentang ketabahan dan cinta. (r/*)