Penulis : Fardiansah Noor
JAKARTA–MI: Partai Golkar tetap akan mencalonkan kadernya sebagai presiden dan wakil presiden meski kalah dalam pemilihan umum legislatif 2009.

“Tidak tertutup kemungkinan dari Golkar mencalonkan presiden sendiri sekalipun kalah di pemilu legislatif. Karena beberapa persoalan ditambah kekecewaan Golkar. Golkar banyak dirugikan,” kata Ketua DPP Partai Golkar Bidang Organisasi, Keanggotaan, dan Kaderisasi Syamsul Mu’arif kepada wartawan di Jakarta, Minggu (29/6).

Menurutnya, dengan memunculkan kadernya sebagai presiden, Partai Golkar ingin lebih banyak berperan dalam memberikan kesejahteraan bagi masyarakat. Oleh karena itu, Partai Golkar mewacanakan sebaiknya presiden dan wakil presiden nantinya harus berasal dari satu partai.

“Kalau bisa itu diatur dalam undang-undang. Sistem ini cukup baik agar mereka yang terpilih dapat melaksanakan tugas dengan penuh tanggung jawab dan efektif,” ungkap Syamsul.

Ketua Umum Soksi, salah satu kino Partai Golkar itu menjelaskan, walaupun presiden dan wakil presiden berasal dari satu partai, nantinya komposisi kabinet bisa berasal dari kekuatan koalisi. Hal itu terjadi karena format koalisi tidak bisa dihindari.

“Kalau nanti calon presiden harus didukung oleh minimal 30% suara, format koalisi tidak bisa dihindari walau bukan koalisi besar. Sistem multi partai ternyata tidak efektif karena banyak gangguan di tengah jalan,” ujar Syamsul.

Ia memaparkan, pemerintahan yang kuat dan bisa melakukan pembangunan baru bisa berjalan jika sistem demokrasi yang digunakan seperti Amerika atau Malaysia. Demokrasi dengan hanya dua partai besar yang bersaing untuk mensejahterakan masyarakat.

“Kita baru bisa kuat kalau ada sistem dwipartai dan pencalonan presiden dilakukan jauh hari sebelum pemilu legislatif. Kita akan dapat presiden yang didukung oleh pemerintahan yang kuat. Persoalannya saat ini kita menggunakan sistem yang tidak jelas. Parlementer tidak, presidensial juga tidak,” katanya.(Far/OL-01)