JAKARTA, RABU – Ketidakakuran antara Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) versi MLB Parung (kubu KH Abdurrahman Wahid) dengan PKB versi MLB Ancol (kubu Muhaimin Iskandar) terlihat jelas saat acara pengambilan nomor urut parpol peserta Pemilu 2009 di kantor Komisi Pemilihan Umum (KPU) Jakarta, Rabu (9/7).

Mereka kucing-kucingan (saling menghindar) satu sama lain. Serta saling melontarkan sindiran usai acara yang akhirnya PKB mendapat nomor urut 13 pada Pemilu 2009 mendatang.

Suasana itu sudah terlihat saat mereka datang di kantor KPU. Muhaimin selaku Ketua Dewan Tanfidz PKB versi MLB Ancol, tiba di kantor KPU sekitar pukul 13.05 WIB. Meski dihimbau KPU agar datang bersama Yenny Wahid (Sekjen PKB) sesuai dengan Muktamar Semarang, Muhaimin memilih datang bersama Sekjen PKB versi Mlb Ancol, Lukman Edy. Lima belas menit kemudian, Yenny Wahid datang bersama Ketua Umum Dewan tanfidz PKB versi MLB Parung, Ali Masykur Musa.

Suasana sedikit memanas jelang pengambilan nomor urut parpol. Yenny melakukan protes ke KPU karena telah mengundang Muhaimin Iskandar. Harusnya, kata dia, KPU berpegang pada aturan internal PKB yaitu AD/ART partai yang menyebutkan bahwa kepemimpinan tertinggi partai adalah di tangan ketua umum dewan syura.

Saat pengambilan nomor urut, PKB yang mendapat undian mengambil nomor urut pertama, baik Yenny dan Muhaimin maju bersama dan mengambil kertas sendiri-sendiri. Mereka kemudian dipanggil Ketua Pokja verifikasi parpol KPU, Andi Nurpati yang menghimbau agar keduanya mengambil hanya satu kertas nomor urut. Keduanya akhirnya berdiri berdampingan untuk kali pertama sejak konflik internal PKB mencuat sejak Maret lalu.

“Kalau yang diundang Gus Dur harusnya tidak jadi masalah. Saya ikut maju karena mendapat mandat dari Gus Dur. Kalau di PKB, Ketua Umum yah Gus Dur, nggak masuk akal kalau Ketum PKB itu bukan Gus Dur. Bukan Muhaimin, dia itu Tanfidz (pelaksana). Nah kalau KPU mau ikut internal atau menghargai itu yah jelas. Itulah saya protes keras di dalam tadi,” jelas Yenny kepada wartawan di kantor KPU, Rabu (9/7).

Yenny juga menyayangkan bahwa undangan dari KPU tidak dikirimkan ke kantor DPP PKB di Kalibata. Ia mengaku sudah mempertanyakan langsung hal itu ke Andi Nurpati. “Saya telpon langsung ke bu Andi, katanya dikirimkan, mana kok kami tidak menerima. Undangan itu tidak pernah dikirimkan ke alamat DPP Kalibata, yang di DPP kan kami.

Harusnya kalau ada undangan di DPP PKB harusnya kami, kan itu Gus Dur, berarti undangan ada yang nyuri,” sambung pemilik nama lengkap Zannubah Arrifah Chafsoh ini. Muhaimin sendiri terlihat lebih rileks. Terkait protes Yenny kepada KPU sebelum pengambilan nomor urut, Muhaimin menyebutnya sebagai tindakan yang tidak perlu dilakukan. Bahkan, ia menyindir keras Yenny kurang dewasa dalam berpolitik.

“Yenny nggak ngerti UU Partai politik. UU parpol itu jelas bahwa Ketua Umum dan Sekjen yang diundang KPU. Sudah jelas, tidak perlu dikomentari. Saya pikir kejadian di dalam tadi kekanak- kanakan,” ujar Muhaimin.

Dituding kekanak-kanakan, Yenny hanya menegaskan bahwa dirinya hanya menegakkan aturan institusi, bahwa, Ketua Umum yang memegang amanat tertinggi PKB adalah ketum dewan syuro, yakni Gus Dur. “Dan ini diakui sendiri oleh Cak Imin, aturan institusinya ketum nya Gus Dur. Kalau seperti itu, Cak Imin artinya tidak mengakui Gus Dur sebagai ketum. Itu namanya makar kalau ketumnya nggak diakui,” sambung Yenny.

Lucunya, meski berdampingan saat mengambil nomor urut, kubu Muhaimin dan Yenny nampak enggan bertemu. Itu terlihat seusai acara. Kubu Muhaimin diantaranya, Sekjen Lukman Edy, Wasekjen Haif Dhakiri, Ketua DPP Marwan Jakfar dan Lily Wahid yang berada di lantai dua gedung KPU dan hendak turun ke lantai I, menunda langkah mereka.
Mereka memilih berhenti di tangga. Penyebabnya, di lantai I, Yenny tengah diwawancarai wartawan. Sesekali orang dekat Muhaimin menengok ke lantai I. Baru setelah Yenny keluar ruangan, kubu Muhaimin turun. Tapi, mereka keluar gedung KPU juga tidak lewat pintu utama yang sebelumnya dilewati Yenny. Melainkan lewa pintu samping.

Namun, meski saling sindir, baik kubu Muhaimin dan Yenny tidak mempermasalahkan nomor 13 yang menjadi nomor PKB di Pemilu legislatif pada 9 April 2009 mendatang. Baik kubu Muhaimin dan Yenny Wahid, sama-sama menyebut bahwa angka 13 tidak akan berdampak pada penurunan suara PKB. “Kata siapa 13 itu angka sial. Ini (angka 13) membawa optimisme baru,” ujar Muhaimin yang sebelumnya mengaku ingin PKB mendapat nomor 1 dan 9.

“Asumsi 13 angka sial itu hanya ada di Barat sana. Di sini tidak ada kepercayaan seperti itu. Angka 13 bagi kami tidak punya konotasi apapun. Kalaupun ada yang terpengaruh, paling masyarakat kota saja yang sudah banyak terpengaruh tradisi Barat,” tegas Yenny.