Jakarta — Partai Keadilan Sejahtera mulai melakukan proses pemilihan calon presiden. Nama-nama calon akan disampaikan sejumlah dewan perwakilan wilayah (DPW) dalam musyawarah kerja nasional di Makassar mulai Senin pekan depan.

“Kemungkinannya ada penjaringan nama,” kata juru bicara DPP PKS Mabruri kepada Tempo kemarin. Hingga kemarin, kata Mabruri, beberapa DPW telah menyampaikan nama-nama yang dianggap pantas sebagai kandidat calon presiden, di antaranya bekas Wakil Kepala Polri Adang Daradjatun, bekas Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso, dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Ketiga nama ini diusulkan DPW PKS DKI Jakarta.

Adapun Ketua MPR Hidayat Nur Wahid diusulkan DPW Jawa Timur. Nama-nama yang ada kemungkinan akan diusung itu belum disampaikan secara resmi. “Karena fokusnya masih ke pemilu legislatif,” ujar Mabruri.

Tampaknya musyawarah akan berlangsung alot, karena usia para kandidat calon presiden di atas 50 tahun. Sedangkan salah satu syarat calon presiden atau wakil presiden versi PKS berusia di bawah 50 tahun. “Kami mencari pemimpin muda,” katanya.

Musyawarah kerja juga membahas strategi pemenangan pemilu legislatif. PKS, kata Mabruri, mematok target 130 kursi parlemen untuk pemilihan legislatif 2009. Target ini hampir tiga kali lipat dari 45 kursi PKS di parlemen saat ini.

Mabruri mengatakan, mayoritas calon legislator PKS berusia muda. Sekitar 40 persen berusia di bawah 30 tahun, 60 persen 40-50 tahun. “Sisanya di atas 50 tahun,” katanya.

Musyawarah Kerja Nasional PKS berlangsung pada 21-23 Juli, akan dihadiri Presiden PKS Tifatul Sembiring dan Ketua Majelis Syuro PKS Hilmi Aminuddin. Mantan presiden B.J. Habibie dijadwalkan akan menghadiri rapat tersebut. “Sekitar 2.000 orang dari semua DPW akan hadir,” kata Mabruri.

Ketua Dewan Perwakilan Wilayah DKI Jakarta Triwicaksana membenarkan bahwa pihaknya mewacanakan nama-nama kandidat presiden. Selain Adang, Sutiyoso, dan Yudhoyono, pihaknya juga mengusung nama Hidayat Nur Wahid, Sekretaris Jenderal PKS Anis Matta, dan Presiden PKS Tifatul Sembiring. “Tapi ini masih wacana pribadi,” katanya. Dwi Riyanto Agustiar