KEDIRI, RABU – Pemilih Golput menjadi “pemenang” dalam Pilkada gubernu Jawa periode 2008-2013 yang digelar 23 Juli 2008. Angka golput jauh melebihi perolehan suara lima kandidat yang bertarung dalam pilkada.

Berdasarkan pantauan Kompas di Kota dan Kabupaten Kediri, Jawa Timur, jumlah pemilih yang menggunakan hak pilihnya dengan datang ke tempat pemungutan suara rata-rata hanya 60 persen dan paling tinggi sekitar 70 persen.

Jumlah pemilih yang tidak menggunakan hak pilihnya mencapai angka 30-40 persen. Itu belum termasuk surat suara yang tidak sah karena unsur kesengajaan dari pemilih. Jika jumlah suara tidak sah dimasukkan dalam kategori golput, maka angkanya lebih besar.

Bandingkan dengan hasil penghitungan cepat yang dilakukan sejumlah lembaga, termasuk Litbang Kompas. Hasilnya menunjukkan, angka terakhir perolehan suara menempatkan pasangan Soekarwo – Saifullah Yusuf di urutan pertama dengan peroleh suara 25,5 persen. Sementara, pasangan Khofifah Indar Parawansa dan Mudjiono di tempat kedua dengan perolehan suara sebesar 25,3 persen.

Tingkat partisipasi masyarakat dalam pemilihan langsung gubernur Jawa Timur periode 2008-2013 yang digelar 23 Juli 2008, lebih rendah dibandingkan dengan pemilihan legislatif dan pemilihan presiden tahun 2004 lalu. Sebaliknya, angka golput meningkat secara signifikan.

Angka golput yang mencapai 40 persen ini jauh lebih besar dibandingkan dengan angka golput pada saat pemilu legislatif dan pilpres 2004 lalu di Kota Kediri dimana angkanya hanya 20 persen. Itupun sudah termasuk surat suara tidak sah yang dikategorikan sebagai golput.

Sebagai gambaran, di TPS 07 Kelurahan Rejomulyo Kota Kediri, dari 361 pemilih yang terdaftar, hanya 213 yang hadir. Sebanyak 148 orang atau sekitar 40 persennya tidak hadir. Di TPS 01 Kelurahan Pakunden Kecamatan Pesantren juga hampir sama. Dari 352 pemilih yang terdaftar, yang hadir ke TPS hanya 252. Dengan demikian jumlah pemilih yang tidak menggunakan haknya 100 orang atau sekitar 28 persen.

Anggota Komisi Pemilihan Umum Daerah Kabupaten Kediri Bidang Sosialisasi Taufik mengatakan gejala rendahnya antusiasme masyarakat menyambut pesta demokrasi lima tahunan, sebenarnya sudah terlihat sejak dilakukannya pemutakhiran data pemilih.

Masyarakat yang belum terdaftar dalam Daftar Pemilih Sementara (DPS) tidak proaktif mendaftarkan diri. Justru perangkat desa setempat yang proaktif. Itupun hasilnya kurang maksimal.

Menurut Taufik ada dua faktor yang menyebabkan tingginya golput dan rendahnya partisipasi masyarakat dalam pilgub Jatim yakni faktor teknis dan non teknis. Faktor teknis adalah kurangnya sosialisasi karena terbatasnya anggaran.

KPUD hanya melakukan sosialisasi tiga kali di tiga kecamatan di Kota Kediri ditambah satu kali sosialisasi di tempat umum. Selebihnya, KPUD melakukan sosialisasi apabila ada permintaan dari instansi tertentu atau lembaga swadaya masyarakat.

Faktor teknis ini penting tapi kurang signifikan. Faktor penentu terbesar adalah non teknis yakni perasaan putus asa atau apatis masyarakat terhadap penyelenggaraan pemilihan pemimpin secara langsung akan menghasilkan pemimpin yang bisa meningkatkan kesejahteraan rakyat.

Mereka tampaknya trauma pada pemilu presiden tahun 2004 lalu dimana hasil dari pemilihan itu ternyata tidak berdampak signifikan pada perubahan nasib rakyat. Harga-harga kebutuhan pokok tetap naik dan pekerjaan sulit.

Pengalaman serta sistem yang terbentuk selama ini telah menghegemoni pemikiran mereka sehingga melahirkan sikap yang skeptis dan apatis. Toh walaupun saya tidak memberikan suara, tidak ada pengaruhnya terhadap pasangan calon yang jadi, katanya.