BANDUNG, (PRLM).- Figur Dada Rosada yang dikenal luas (98% masyarakat kenal Dada) dinilai menjadi faktor pendongkrak peraihan suara pasangan Dada-Ayi pada Pilwalkot Bandung 2008. Dada diibaratkan “matahari tunggal”, sehingga kinerja mesin partai politik (parpol) dan relawan tidak terlalu berpengaruh besar.

Demikian diungkapkan Direktur Eksekutif Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny J.A. di sela-sela jumpa pers hasil penghitungan cepat (quick count) Pemilihan Wali Kota/Wakil Wali Kota Bandung di Hotel Savoy Homann Jln. Asia Afrika, Minggu (10/8).

“Dicalonkan oleh parpol mana pun Dada bisa menang. Bahkan, kalau mencalonkan lewat jalur independen yang bisa menekan cost politik, dada juga berpeluang menang. Namun, peran parpol dan relawan pendukung juga ada meski tak begitu berpengaruh,” katanya.

Hasil akhir survei LSI pada Pilwalkot Bandung 2008 menyatakan pasangan Dada Rosada-Ayi Vivananda meraih dukungan suara terbanyak (64,37%), disusul pasangan Taufikurahman-Abu Syauqi/Trendi (26,07%), dan pasangan Hudaya Prawira-Nahadi (9,56%).

Penilian yang sama juga diungkapkan Guru Besar Politik Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung Prof. Idrus Affandi. “Meskipun Trendi dan Hadi didukung oleh mesin politik dan jaringan yang kuat, figur Dada lebih dominan. Sebenarnya faktor incumbent tidak begitu berpengaruh, tetapi Dada terangkat karena ketokohannya,” ujarnya.

Keutuhan komunitas pemilih justru tidak dimiliki sepenuhnya oleh Trendi maupun Hadi. “Terlihat dari dukungan kalangan akademisi yang terpecah karena Taufikurahman dan Nahadi yang sama-sama berangkat dari profesi dosen,” ucapnya.

Kemenangan sementara pasangan Dada-Ayi juga dianggap sebagai hasil “belajar dari pengalaman” pada Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jabar dengan melakukan regenerasi kepemimpinan. “Dada menggandeng Ayi yang lebih muda. Tidak seperti saat Danny Setiawan berpasangan dengan Iwan Sulandjana yang sama-sama golongan tua,” ujar Idrus.

Selain popularitas, tokoh yang tidak lolos verifikasi KPU Kota Bandung sebagai Cawalkot Bandung Indra Perwira menyatakan, masyarakat Bandung menilai program kandidat alternatif kurang realistis untuk diwujudkan.

“Seperti program sekolah gratis. Bisa saja sekolahnya gratis tapi seragam atau bukunya tidak. Program Dada-Ayi yang menawarkan kemudahan akses pendidikan dianggap lebih realistis oleh masyarakat,” kata Indra.

Indra juga menyatakan Dada-Ayi memiliki trik yang “cantik”, yakni dengan melaksanakan sejumlah projek saat injury time atau menjelang kampanye, seperti perbaikan jalan.

“Banyak fasilitas masyarakat yang baru diperbaiki sekarang. Masyarakat kan cepat lupa, mereka melihatnya yang sekarang aja,” kata Indra.

Mengenai kehadiran calon perseorangan dalam Pilwalkot Bandung, Denny J.A. mengatakan, keterwakilan masyarakat lewat jalur independen patut diapresiasi.

“Di tengah keterbatasan yang dimiliki, kubu calon independen mampu meraih dukungan yang cukup banyak. Namun, perlu semua itu dipelajari lagi agar independen dapat memperluas jaringan,” katanya.

Sedangkan mengenai tawaran perubahan yang dikemukakan beberapa kandidat pada masa kampanye, Denny mengatakan, aura perubahan masih lemah pada dinamika kehidupan masyarakat Kota Bandung. Keengganan untuk berkorban demi kehidupan yang lebih baik dan memilih hidup adem ayem menjadi salah satu penyebab masyarakat pilih figur yang sudah dikenal.

“Kalau masyarakat ingin perubahan kehidupan, harusnya mereka memilih figur alternatif daripada incumbent. Tapi, hal ini tidak terjadi di Kota Bandung,” katanya.

Denny juga menyebutkan, kendati pasangan Trendi menawarkan perubahan, masyarakat Kota Bandung tidak mau bersusah-susah dahulu. “Jadi, tawaran itu tidak terlalu mendapat apresiasi dari masyarakat,” ujarnya. (A-158/CA-174/CA-177/CA-167/A-147)***