Penulis : Agus Utantoro
YOGYAKARTA–MI: Sri Suitan Hamengku Buwono X tidak menggubris pernyataan seseorang atau kelompok masyarakat yang meminta dirinya ganti nama atau menggunakan nama kecilnya jika akan maju ke bursa pemilihan presiden 2009 mendatang.

Bahkan, Sri Sultan dengan tegas menyatakan, akan tetap menggunakan nama Sri Sultan Hamengku Buwono X serta tidak akan menggunakan nama kecilnya Herjuno Darpito.

Pernyataan Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X tersebut, disampaikan kepada wartawan sekaligus menjawab permintaan dari Paguyuban Lurah dan Perangkat Desa se DIY yang tergabung dalam wadah Ismaya.

Selain itu juga untuk menjawab permintaan Partai Golkar DIY yang minta sebaiknya dalam maju ke bursa capres, tidak memakai nama Hamengku Buwono. Sebaiknya, ‘Ngarsa Dalem’ pakai nama kecil saja.

”Hamengku Buwono itu nama saya. Herjuno Darpito itu, nama kecil saya. Orang Indonesia boleh khan 1000 kali ganti nama,” kata Sri Sultan Hamengku Buwono X menjawab pertanyaan wartawan di Kepatihan, Pemprov DIY, Selasa (4/11).

Selain enggan mengganti namanya, orang nomor satu di Keraton Yogyakarta, juga membantah telah menjalin pertemuan dengan beberapa kandidat capres lain seperti Megawati dan lain sebagainya.

Lagi pula, tambah Sultan, soal pencapresannya yang disampaikan pada ‘Pisowanan Agung’ tanggal 28 Oktober lalu, juga baru sebatas menjawab pertanyaan dari masyakarat apakah ia bersedia maju sebagai capres atau kah tidak.

”Belum ada pertemuan kok. Kemarin khan juga baru menjawab saja kalau saya bersedia maju,” katanya. ”Jadi belum ada pertemuan dengan capres lainnya,” tambah Sultan.

Dalam kesempatan itu, Sultan juga enggan berkomentar banyak seputar pencapresannya. Ia dan timnya mengaku masih akan terus melakukan penjajakan kepada parpol serta menunggu perkembangan hasil Pemilu Legislatif lebih dulu. Semua ini, baru penjajakan. Karena dinamika politik masih akan terus berkembang, sehingga sebaiknya kita tunggu saja nanti. ”Ini baru penjajakan. Ditunggu setelah Pemilu Legislatif,” tandas Sultan.

Secara terpisah pengamat budaya yang tinggal di Yogyakarta, Sugiarto Sosro
mengatakan, dalam tradisi Keraton Yogyakarta, nama dan kedudukan yang diberikan oleh Sri Sultan biasanya didahului dengan mencabut nama dan kedudukan yang sebelumnya.

“Jadi, kalau mau merunut, nama Bandoro Raden Mas Herjuno Darpito itu sudah dicabut dan diganti dengan Kangjeng Gusti Pangeran Haryo Mangkubumi. Nama KGPH Mangkubumi ini juga kemudian dicabut dan diganti dengan nama Sri Sultan Hamengku Buwono X,” katanya. Dengan demikian menurut Sugiarto, nama pribadinya kini adalah Hamengku
Buwono X. “Tidak ada lagi Herjuno Darpito,” tegasnya. (AU/OL-02)