Oleh : Ali Syarief

Munculnya nama nama calon Presiden, baik yang disusung oleh Parpol maupun calon independen, menarik untuk kita tela’ah. Sekedar mencari tahu siapa sich kira-kira yang kemudian nanti akan dipilih oleh Rakyat, ada analisis bahwa sehebat apapun calon yang muncul, apakah ia karena kejujurannya, kemampunannya, penampilan dirinya dan bahkan daya tarik visi misinya , tetapi nurani pemilih ternyata lain. Karena itu akan sangat berbeda, kasus Pilpres Obama di Amerika dan kasus Pemilihan Presiden di Indonesia. Kita belum memilik formula yang jitu, untuk meraih dukungan rakyat. Factor rasionalitas masyarakat kita masih terlalu terbelakang, termasuk didalamnya latar belakang socio-cultural, maka prediksi siapa yang akan tampil menjadi pemenang pada Pilpres 2009, akan sulit kita perkirakan!. Singkatnya kajian rasionalitas versus situasi irrasioanalitas masyarakat kita seringkali deviasi.

Mari kita urut analisis dari Incumbent dahulu, Susilo Bambang Yudoyono. Beliau, karena nu boga lalakon /pemegang peran saat ini, hasil berbagai pooling tetap sebagai calon Presiden 2009 masih yang teratas. Kinerja beliau selama 4 tahun memimpin, walaupun angka-angka keberhasilan pembangunannya debatable, akan tetapi ada masih didukung oleh factor keberuntungan, seperti kemajuan di bidang ekonomi misalnya. Sekalipun angka-angka optimisme kemajuan dibidang ekonomi tidak kemudian secara langsung di rasakan oleh masyarakat umum, namun nanti serangan issue bahwa angka kemiskinan semakin meningkat, harga-harga terus merangkak bak meroket akan dilawan oleh SBY dengan issue memerangi Korupsi, Penegakan Hukum, Swasembada beras tahun 2009, harga bahan bakar minyak turun. Karena itu, keuntungan sebagai pemegang peran saat ini, langkah ke arena Pilpress 2009, akan lebih mudah di bandingkan dengan capres-capres lain.

Probowo Subiyanto, hingga saat ini adalah salah seorang Capres, yang namanya kian popular. Iklan-iklan di semua media, baik televisi maupun radio, hingar bingar dimana-mana. Namanya semakin meluas di masyarakat, karena memposisikan dan identik dengan sosok pembela kaum tani, buruh, nelayan dan rakyat kecil lainnya. Cinta Produk dalam negeri, issu emosional yang dapat menarik rasa simpatik dari para pelaku usaha nasional. Tapi dukungan saat ini, belum berarti semuanya akan mulus. Prabowo harus berjuang sekuat tenaga memposisikan partainya Gerindra, mendapatkan 25% dari seluruh raihan partai peserta Pemilu 2009 nanti. Bila tidak, beliau harus mencari aliansi partai lainnya, untuk koalisi, hingga minimal mendapat 25% suara, sebagai syarat untuk menjadi calon Presiden RI 2009~2014. Issue HAM peristiwa Mei 1998, kemungkinan akan hangat di angkat kembali sebagai upaya pihak lawan menjegal dirinya.

Megawati Sukarno Putri, kembali tampil sebagai Capres, merupakan keputusan yang luar biasa!. Entah apa yang menjadi tolok ukur Partai, hingga Mbak Mega ini ditampilkan kembali oleh PDI-Perjuangan sebagai Capres 2009. Pasalnya tidak pernah kita melihat dalam sejarah Pilpres di Negara manapun seluruh dunia, pemilih kembali memilih sosok lama yang pernah memagang tampuk pimpinan dahulu itu. Kita percaya kalau Mbak Mega ini masih memiliki pendukung yang setia, tetapi masalahnya adalah cukupkah suara pendukungnya itu untuk menjadi Pemenang Presiden 2009?. Issu kampanye Mbak Mega saat ini “turunkan Harga-harga”, tidak terlalu mengigit. Tetapi optimisme untuk melaju ke Pilpress 2009 tinggi sekali, karena kendaraan politiknya di Pemilu 2009, di harapkan bisa menampilkan sosok Mega ini.

Wiranto, gagal pada Pilpres 2004 yang lalu, ini bisa menjadi pelajaran buat beliau. Strategi Partai Hanura termasuk baik dibanding dengan partai-partai lainnya. Issu HAM sudah tuntas untuk beliau. Figure dan penampilan pribadi tidak kalah dengan SBY. Tetapi persoalannya, sebagai Partai baru, HANURA harus bekerja keras sekali untuk mendapat 25% suara, Ini persoalan tersendiri bagi partai-partai yang gigih ingin memperjuangkan calon presidennya. Issu kemiskinan nampaknya kalahm serem dengan pemberantasan Korupsi. Nanti kalah menarik dengan issue, setelah Aulia Pohan, Paskah Suzetta Cs di kerangkeng KPK.

Sri Sultan Hamengku Buwono X, walau kalah start oleh “Fajroul Rachman” dalam deklarasi pencalonan Presiden, akan sulit juga melangkah ke Pilpress 2009. Karena persyaratan untuk menjadi Presiden menurut UU Pilpres saat ini harus dipenuhi dahulu, yaitu partai Pengusungnya siapa?. Jusuf Kalla, tentu siasat sebagai Pengusahanya, boleh jadi ngga kalah pintar dengan Sri Sultan, Ini persoalan sendiri. Sebagai vote getter (wapres) boleh jadi Sri Sultan adalah nominee yang bagus.

Jusuf Kalla, biasanya pengusaha terbiasa dengan selalu harus berkompetisi, sosok yang satu ini, diam-diam cerdik juga. Dahulu, Pilpress 2004, beliau maju sebagai Cawapres tidak diusung oleh Partai Golkar. Dalam posisi sebagai Cawapres, pertemuan Ba’da sholat Jum’atnya, memberi isyarat kepada kita bahwa beliau, walau sebagai wapres, turut mengambil kebijakan juga rupanya. Ini tidak lumrah di Amerika, wapress bisa berprilaku seperti Jusuf Kalla. Kita percaya kecerdikannya sebagai seorang pengusaha, beliau tidak tinggal diam dalam menghadapi Pilpress mendatang, walau badai dalam internal partai juga tidak kecil akan menerpa pencalonan dirinya.

Sutiyoso, kalau nama di Facebook.com tertulis begini “Hj.Sutiyoso”, banyak orang menjadi bingung. Dikira Mpok Yos, eh.. tapi photonya malah Bang Yos. Walau banyak yang mempertanyakan ikhwal initial “Hj” ini, tapi masih saja belum diubahnya. Nampaknya beliau itu Gaptek! Ha..ha.. Bang Yos ini kelihatannya semakin melempem. Sepertinya ngga serious. Tapi terus terang saja agak sulit untuk beliau bisa lolos sebagai Capres 2009. Bang Yos ini dengan mudah akan bisa dilumpuhkan oleh lawan-lawan politiknya dari serangan kinerja sebagai Gubernur DKI dahulu. Sebagaimana kata Permadi SH; “ Siapa sich yang percaya kalau Gubernur itu tidak korupsi?”. Partai Indonesia Sejahteranya juga adem ayem aja, sementara pooling ratingnya juga rendah.

Yudy Chrisnandi, rasa simpati penulis saja dank arena tekad kerasnya, sehingga mengupas Yudi sebagai Capres disini. Semua serba mungkin. Tidak ada yang tidak mungkin. Tapi sekali lagi keberhasilan menjadi RI 1, sudah ada ketetapan dan agreement sebagaimana yang tersurat dan tersirat dalam UU Pilpres itu. Artinya jalan panjang untuk beliau harus dilalui, disamping kerikil tajam yang akan mengganggu perjalanan panjang itu tidak akan mudah dilampaui. Sementara Yudi sendiri mengatakan : “”Orang-orang di DIB adalah orang-orang yang kredibel, negarawan yang tidak ingin memiliki ambisi-ambisi kekuasaan politik. Mereka menyeleksi 25 orang tokoh nasional yang dianggap memiliki kualifikasi sebagai capres. Hasil seleksi mereka ada 10 yang lolos diantaranya muncul nama saya,” pungkas Yuddy.[nng/jib。

Pemilih. Sesungguhnya merekah yang menentukan siapa yang akan menjadi Presiden kelak. Sekarang mari kita lihat bagaimana cirri dan karakter pemilih kita!. Ini persoalan tersendiri pula. Kita baru saja mengikuti Pemilu dan Pilpres 2004 yang pertama kali dalam sejarah Indonesia berlangsung secara sangat demokratis. Patut diduga, masyarakat pemilih kita, masih kurang memiliki skill bagaimana menentukan pilihan calon yang tepat. Sebagian pemilih kita menentukan pilihannya, karena calon Presiden badanya tinggi dan besar. Ada juga yang memilih, terutama kaum ibu, karena ketampanannya. Pada Pilkada Jawa Barat, siapa menyangka kalau incumbent Danny Setiawan dan Jenderal Purn. Agum Gumilar harus mengakui pada pasangan Ahmad Heryawan dan Dede Yusuf. Masyarakat Jawa Barat hanya tahu Dede Yusup sebagai pemain sinetron dan bintang iklan!. Tetapi kemudian seiring dengan proses waktu berlanjut, Primus yang mencalonkan menjadi calon wakil Bupati di Kabupaten Subang, harus mengakui kekalahan atas calon bupati incumbent. Helmi Yahya pun demikian, popilaritas dirinya, tidak mampu mendongkrak raihan suara secara signifikan. Jadi popalaritas bisa ya membantu seperti pada Rano Karno dan Dede Yusuf, akan tetapi tidak pada Helmy Yahya, Primus dan Syaiful Jamil. Visi misi dan program kerja para calon hanya aksesoris untuk kalangan pemilih tertentu saja. Tetapi Tuan Guru Batang di Nusa Tenggara Barat, adalah sosok yang didukung disamping popularitas juga karena factor-faktor sosio-cultural masyarakat Lombok/NTB. Pada sisi lain, raihan suara PKS di beberapa Daerah sangat besar karena intensifnya penggarapan masyarakat Pemilih secara efektif, namun ternyata gagal untuk memunculkan Calon Walikotanya di Pilwalkot Kota Bandung yang lalu. Disini Roda partai PKS tidak berjalan sebagaimana harapan semula. Tetapi Pak Bibit Waluyo berhasil tampil sebagai pemenang Pilgub Jateng, justru karena antara lain roda partai PDI-P produktif memberikan kontribusi yang baik.