dsc02024Dengan mengambil tempat di Gedung Indonesia menggugat Bandung, Dewan Integritas Bangsa, kembali menyelenggarakan temu muka dengan para kandidat presiden kita. Kali ini yang muncul yaitu Yudi Chrisnandi, Bambang Sulistomo, Rizal Ramli dan Marwah Daud. Kecuali Sri Sultan, yang lebih senang mendengar daripada memaparkan konsepnya, tidak hadir pada kesempatan ini. Seperti konvensi biasa, para calon masing-masing satu persatu memaparkan konsep Indonesia kedepan, menurut versi masing-masing. Karena mengambil tempat di Gedung Indonesia menggugat dimana dahulu Bung Karno diadili karena pemikirannya tentang Kapitalisme dan imprialisme, semua kandidat mengawali pidatonya dengan menposisikan dirinya seperti Bung Karno dahulu, ingin mengadakan “perubahan yang lekas”!.

Masing-masing tampil dengan gayanya sendiri-sendiri, ada yang menggebu-gebu seperti Yudi Chrisnandi, rupanya senang kalau pidatonya dikatakan seperti Bung Karno. Bambang Sulistomo tampil lebih kalem tetapi cukup elegan. Rizal Ramli tampil tanpa basa basi, cirri khasnya muncul dengan lebih tenang karena faktor usia mungkin ( beda pada waktu dahulu jaman beliau menggerakan Gerakan Anti Kebodohan). Marwah Daud, tampil sebagai sosok seorang politikus dengan gagasannya yang juga ingin mengadakan perubahan secara signifikan.

Setelah mencermati pemaparan ke empat kandidat tersebut, pada umumnya semua kandidat ingin mengadakan perubahan. Namun demikian, forum tidak melihat, para kandidat mengangkat akar masalah bangsa yang sesungguhnya, sehingga kemudian solusinya seperti yang mereka paparkan. Jadi ini artinya, perubahan seperti yang mereka tawarkan, sesungguhnya tidak berangkat dari akar masalah yang sesungguhnya. Inilah yang kemudian, seperti yang saya ungkap dalam judul diatas “ even the dead fish can go with the flow”. Harapan forum bahwa para kandidat itu “ swim against the stream”, berenang melawan arus!. Kata-kata asing ini, saya pinjam dari pengantarnya pendeta Nathan saat membuka acara tersebut.

Kalau begitu jadinya, maka bukan mustahil, kalau setelah pemerintahan baru terbentuk kembali, maka issue-issue 30 tahun yang lalu muncul lagi tidak berubah; Kembali Jakarta dilanda Banjir, atau Kembali H-7 dan H + 7, ditandai dengan kemacetan dimana-mana, menelan korban jiwa, dst.