Kalaulah saya bisa berteriak, maka ingin berteriak dan menjerit sekeras-kerasnya, sebagai tanda expresi atas kekecewaan saya melihat figur-figur pemimpin Bangsa di negeri ini. Inilah titik kulminasi saya ketika dahulu mendengar, satu lagi, salah seorang pelawak kita, yang pernah mencalonkan menjadi wakil Bupati di Kabupaten Subang Jawa Barat. Ini serious, pelawak “Ogut”, salah seorang teamnya yang bertugas mengumpulkan sejumlah foto copy KTP, sebagai syarat yang harus disertakan untuk menjadi Balon Bupati/wakil Bupati dari calon independen, menyampaikannya kepada saya. Untung beliau tidak lanjut mencalonkan diri, karena persyaratan KTP tidak terpenuhi.

Tentu adalah hak setiap orang, untuk berbuat apa saja di negeri ini dan syah syah saja, kalau orang seperti Pelawak “Ogut”, ingin mencalonkan diri menjadi wakil Bupati. Atau pelawak “ qomar”, bermimpi menjadi presiden RI di negeri ini. Wagub Jabar Dede Macan Effendy, mengasosiasikan, seperti mantan Presiden Ronald Reagan, atau Arnold S, menjadi pemimpin di negeri Paman Sam itu. Tentu Wagub Dede, sadar, kalau Ronald Reagan dan Arnold S menjadi pemimpin di Amerika, bukan karena mereka sebagai artist, tetapi mereka adalah senator dan meniti karier melalui jenjang dan tahapan tahapan karier politik yang panjang.

Coba kita tela’ah karier politik para figure pemimpin bangsa ini yang ex artist. Pelawak Qomar umpanya. Kita tidak pernah tahu mulai kapan sang pelawak ini terjun di dunia Politik. Pun Aji Mas Said, ujug-ujug saja, duduk sebagai anggota DPR RI yang terhormat itu. H.Rano Karno, sekarang wakil Bupati Tangerang, kita hanya kenal beliau itu tak lain dan tak bukan sebagai tokoh si Doel. Penyanyi “Saeful Jamil”, kalah telah sebagai calon wakil Bupati Serang.
Secara subjektif, saya melihat, bahwa kehadiran mereka baik di birokrat maupun di parlemen, diragukan kemampuannya!. Sederhana, tudingan itu muncul karena kemampuan seseorang itu, tidak lahir secara miracle, akan tetapi sunnatullahnya, memang harus memiliki kompetensi dibidang tersebut. Dan komptensi itu di peroleh melalui suatu proses yang panjang. Apalgi dalam kepemimpinan ada proses decision making dan tuntuan kearifan yang hanya lahir karena pengamalan dan maturity seseorang termasuk didalamnya soal intelektualitas. Visi dan kejujuran saja tidak cukup syarat untuk memimpin bangsa dan masyarakat dengan sejuta masalah ini. Ternyata, melihat dan mendengar apa yang sedang dilakukan oleh H.Ahmad Heriawan dan H.Dede Yusuf, dalam 100 hari pertama memimpin propinsi Jawa Barat saat ini, jadi geli juga!. Misalnya mereka sibuk berdua dengan menghadiri acara-acara seremonial, mepersoalkan rumah dinas yang kekecilan, tidak faham kewenangan siapa untuk mencairkan anggaran. Bahkan tidak punya visi bagaimana menempatkan pejabat yang kemudian menjadi partner mereka untuk mengaolkan visi misi berdua itu.

UU kepartaian kita, memang, menurut hemat saya, kecolongan sehingga figur-figur seperti, Bung Mandra, Eko Patrio, Komar, Wulang Guritno, itu bisa lolos dan tampil untuk menjadi wakil rakyat. Memang itu bisa dipilih oleh rakyat, tapi kan kita tahu bahwa rakyat pemilih kita masih awam dan tidak punya visi, bagaimana memilih seorang Caleg yang begitu banyak, Gubernur, Bupati/walikota atau Presiden, dan anggota DPD tentunya.

Pada sisi lain, mari kita lihat apa yang akan terjadi di Pemerintahan Kabupaten Garut, dimana Bupati dan wakilnya berangkat dari calon independen. Bagaimana Bupati dan wakilnya bisa memiliki program yang bisa dilaksanakan, padahal syaratnya kan harus disetujui oleh DPRD nya, sedangkan di DPRD Kab.Garut tidak ada satu partaipun yang mengusung Bupati dan Wakil Bupati terpilih. Ini artinya semua anggota DPRD Kab. Garut adalah oposisi. Demokrasi macam apa ini? Yang heran lagi, MUI mendukung dengan system seperti ini dengan mengeluarkan fatwa Golput adalah Haram.