Susilo Bambang Yudoyono maju ke Pilpres 2009, karena dimungkinkan oleh UUD, yaitu satu kali lagi bisa menjabat sebagai Presiden RI, kalau rakyat kemudian memilihnya. Wiranto, karena faktor umur, boleh jadi untuk memenuhi rasa kepenasarannya,Pilpres 2009 adalah kesempatan terakhir untuk mengadu nasib. Jusuf Kalla, karena desakan yang kuat, akhirnya memberanikan diri untuk maju ke Pilpres 2009, ia pun karena factor usia, maka Pilpres mendatang adalah final. Megawai, tidak pernah kapok, ajang Pilpres 2009, nenek ini masih juga ingin mengadu nasib. Prabowo, boleh jadi Pilpres 2014, masih mungkin maju kembali, tetapi Pilpres 2009, yang telah banyak menanam investasi pada iklan untuk Gerindra, bukanlah point of no return. Ngarso Dalem Sri Sultan, karena faktor usia juga, 2009~2014, adalah usia produktifnya. Sutiyoso, boleh bermimpi, tapi melihat mantan anak buahnya, SBY,  kepercayaan dirinya tumbuh, dan gelora untuk jadi Presiden RI juga menggebu gebu, tetapi ini juga the last chance.

Mari kita renungkan, berapa milyar atau mungkin trilyun rupiah masing-masing Capres telah investasi untuk memenuhi ambisnya sebagai Presiden RI yang akan datang. Padahal prinsip the zero sum game berlaku disini, yaitu ada yang menang dan pasti ada yang kalah.

Analisis diatas, menyadarkan kepada kita dan menangkap sinyelemen, adanya potensi konflik diantara mereka yang sangat tajam. Dan bukan mustahil kalau konflik itu kemudian  memicu para caleg-caleg yang kecewa yang jumlahnya hampir 90 % karena tidak terpilih menjadi anggota dewan, padahal sekurang-kurangnya Rp.500 juta an saja harus mereka siapkan untuk biaya kampanye.

Belajar dari realita.

Mari kita tengok, claim claim mereka  seperti apa yang kita saksikan pada iklan-iklan politik di sejumlah stasiun televisi kita. PKS mengakatakan bahwa berhasilnya swasembada pangan karena menterinya adalah kader PKS. Sementara Golkar mengatakan bahwa itu adalah keberhasilan kumulatif Golkar. SBY juga mengklaim, sejak pemerintahannyalah produksi beras lebih tinggi dari komsumsi. Sementara Prabowo malah menyalahkan konsep ekonomi yang telah dan hanya menghasilkan kesengsaraan rakyat.

Inilah pendidikan politik yang tidak sehat dan bahkan pendidikan politik yang sangat jahat kepada rakyar kita di negeri Poinari ini.