Cebra Cross dan System Politik
oleh Ali Syarief

Prof. David Mc. Cullum, American yg sudah 8 tahun tinggal di Indonesia, tetangga saya dulu, datang bertamu ke rumah. Dengan nada kesel bertanya kepada ku; “Pak Ali do you have any idea where I can find the book of How to Drive safely in Indonesia?”. Saya tanya balik beliau :”what was happening?”. Lalu; ” saya tidak pernah tahu bagaimana saya bisa mengendarai mobil di sini”, kilahnya. Saya tahu kalau mobilnya penyok-penyok karena tabrakan melulu.

Suatu hari, saya baru saja landing di Bandara Bandung. Kemudian keluar airport dan langsung berjalan menuju tempat parkir. Saya sengaja menyebrang lewat Cebra Cross yang tersedia disana. Cebra Cross adalah hak para penyebrang. Tiba-tiba ada sebuah taxi meluncur kencang, yang hampir saja menabrak kaki ku. Bila saya tidak meloncat hampir di pastikan, kakiku tertabrak taxi tsb. Karena saya kesal, maka saya kejar taxi tersebut, lalu ku pukul mobilnya. Eeh..malah sopir taxinya mengejarku balik sambil memaki maki ku seperti ini; “kalau mau menyabrang lihat kiri kanan dong”. Ampun dech, ini sopir taxi bukan lawanku berdebat, pikirku. Saya hanya terbengong-bengong melihatnya.

Pagi ini kejadian menimpa diriku lagi. Biasa, saya dengan selalu medisiplinkan diri menyebrang di Cebra Cross lagi. Sungguh “terifying” (mengerikan), ketika saya menyebrang tidak ada satu mobil dan motor yang mau berhenti menghormati hak ku sebagai penyebrang. Hingga akhirnya saya harus terdiam ditengah-tengah jalan, sementara lalu lintas dibelakang dan didepan diriku, semakin padat dan kencang. Inilah Serasa didalam neraka, horrible.

Sambil saya jogging di tempat fitness ku, merenungkan kejadian baru tersebut, lalu hatiku mengatakan; “inilah wujud dan gambaran suatu bangsaku tercermin dari tata cara berlalu lintas di jalan raya”. Beberapa negara yang pernah saya hidup disana, semakin memberi kesimpulan, bahwa bangsa ini, masih jauh dari suatu peradaban yang tertib. Barbarian.

Tetapi ketika kita berkendaraan di jalan toll, saya melihat bangsa Indonesia juga bisa setertib seperti di negara-negara maju lainnya. ” Koq bisa yah, dalam fikirku”, terlintas!. Jawab Kang Hendarmin, pemnulis buku “Arsitektur Konstitusi Demokratik”, budaya tertib bisa muncul manakala ditata dengan system yang baik.

Carut marut soal Bank Century, KPK – Polisi dan Kejaksaan, Hak angket, memberi isyarat kepada kita bahwa di negeri ini tidak ada system hukum dan politik yang baik. UU perbankan mudah di jebol, lembaga negara berjalan sendiri-sendiri bahkan bersiteru, system hukum dan politik amburadul dan produknya nation in chaos.