by Ali Syarief

Habibie menyebut sejumlah penyebab “lenyapnya” dasar negara yang dirumuskan pada 1 Juni 1945 ini. Di antaranya karena mistifikasi dan ideologisasi Pancasila secara sistematis dan masif di era Orde Baru. Bahkan saat itu dasar negara ini dijadikan senjata ideologis untuk menghantam kelompok yang tak sepaham dengan pemerintah. Tafsir terhadap Pancasila pun dimonopoli penguasa. Akibatnya, setelah reformasi terjadi, Pancasila cenderung dilupakan. Sebagian orang alergi terhadap dasar negara ini karena dianggap sebagai milik Orde Baru. Padahal falsafah bangsa, sekaligus fondasi negara, ini bukanlah milik satu rezim, melainkan milik kita semua.

Bisa jadi fikiran Pak Habibi ini benar adanya. Tetapi yang ingin saya sampaikan adalah, bahwa mindset kita salah sejak awal. Bukan Pancasilanya yang salah, atau tidak bagus, akan tetapi pemahaman kita akan Pancasila, larut dalam fikiran para Penggagas Pancasila yang lalu. Jadilah sistem nilai yang ada dalam benak kita masing-masing versus sistem nilai yang ada dalam masyakat itu sendiri. Artinya cita-cita idiil di perbandingkan dengan seolah-olah Pancasila seperti dalam benak para pemimpin kita yang menyatakan Pancasila semakin jauh dari kehidupan bermasyarakat. Tegasnya, mengukur the living values dengan the dreaming values.

Alasan apa kalau kita telah jauh dari kehidupan masyarakat kita dengan Pancasila? Kalau saya baru berKetuhanan Yang Maha Esa kadanya baru 10%, apakah saya belum mengamalkan pancasila? Kalau masyakarat baru 5% melaksanakan Kemanusiaan yang adil dan Beradab, apakah salah adanya? Kalau ada propinsi yang ingin memisahkan diri dari NKRI, apakah tidak mengamalkan Pancasila? Kalau Kalau kita memilih voting daripada musyawarah, apakah bertentangan dengan Pancasila? Kalau rasa keadilan sosial belum merata, apakah diluar kehidupan Pancasila? Realita diatas adalah the living values yang diarahkan kemudian manuju kehidupan yang sesuai dengan cita-cita ideal seperti yang tertera pada sila-sale Pancasila itu.

Seperti apa cita cita ideall itu, tidak perlu kita definisikan, biarlah kita masing masing memahaminya menurut kemampuan berfikir kita (framework of thinking) dan Pengamaklam sosialnya (Field of experience).

Benarkan Kalau UUD 1945 dan Pancasila itu sebagai dasar Negara?!. Kita sejak proklamasi dahulu, telah mengalami sendiri pergolakan politik hingga berdarah-darah. Inilah produk UUD kita. Bung Karno akhirnya di gulingkan. Pak Harto akhirnya di lengserkan. Pak Habibi di tolak oleh Partainya sendiri. Gusdur, bisa bisanya jadi President hingga akhirnya di impeach juga. Megawati pecah kongsi dengan Hamzah Hazz, sama-sama ingin merebut kursi kepresidenan. SBY dan JK, bercerai, gara-gara sama sama juga ingin jadi Presiden. Sekarang Wakil Presiden Boediono dianggap gagal, karena kinerjanya tidak seperti JK. Padahal JK waktu jadi Wkl. Presiden, menurut fatsoen yang benar, telah overlaping. Coba kalau dasar negara itu adalah Ekonomi Rakyat yang kuat. Orientasi Bangsa akan terfokus kepada undepinning kekuatan ekonomi sebagai fondasi. Sebab negara yang kuat akan sangat tergantung kepada kekuatan ekonomi rakyatnya. Ekonomi rakyat kuat, fondasi negara semakin kokoh. Dalam fondasi yang kokoh, bangunan negara yang ada diatasnya akan kuat pula. Disanalah kemudian nilai-nilai Pancasila akan semakin bermakna dan mudah di amalkan oleh rakyat. Kita memahami bahwa akar permasalahan bangsa ini pada akhirnya terakumulasi kepada persoalan ekonomi, apakah itu soal ketidak adilan atau kekuarangan.

Coba kita benchmark kepada China dan San Min Chui nya, Minzu pertama, membebaskan dari penjajahan asing dan menentang nationalism kesukuan. Minquan sebagai sila kedua, adalah Demokrasi, yaitu prinsip people power, negara di pippin oleh kekuatan rakyat. Sedangkan sila ke tiga adalah Minsheng, yaitu welfare prinsip. Betapa hebatnya dalam system politik komunisme, Dr. Sun yat Sen, merumuskan dengan sederhana dan strategis Tri sila itu, hingga akhirnya membawa China menjadi kekuatan dunia saat ini. Perancis, juga Trisila, Liberty (kebebasan), Equality (Persamaan) dan Fraternity (keadilan sosial), hingga kemudian membawa negara yang sangat elegant di muka bumi ini. Amerika dengan The Declaration of independence nya, telah membawa negara menjadi supper power dan memberi inspirasi kepada seluruh masyarakat dunia. Apakah di US, apakah di China, atau di Perancis, kita tidak pernah mendengar para petingginya secara berulang-ulang, berpidato agar rakyatnya berbudi pekerti menjalankan sila silanya itu, kecuali di Indonesia.