by Ali Syarief

AS : Assalamu’alaikum Bang Foke!

Foke : Wa’alakikum salam…

LALU LINTAS

AS : Mohon ma’af sebelumnya, kalau saya ingin memulai wawancara ini dengan menyebutkan bahwa “Jakarta lalu lintasnya sangat semerawut”…!!!! Bagaimana Bang bisa tanggapi?

Foke : Saya tidak setuju dengan kata semrawut!. Kalau macet pada jam-jam tertentu, itu betul. Tapi itu sudah lama kita tahu, terjadi sejak gubernur gubernur terdahulu. Bukan tidak ada ikhtiar, akan tetapi itu produk dari sebuah system pemerintahaan kita saat ini.

AS : Maksud Bang Foke?

Foke : Kita tahu bahwa Ibu Kota Indonesia ini, sekaligus menjadi pusat business Indonesia, sehingga peredaran uang di indonesia setiap hari hampir 80% beredar di Jakarta. Jadi Ibu kota anda ini menjadi tujuan setiap orang untuk turut mendapatkan kesempatan berbisnis dan mencari rejeki. Jakarta menjadi tempat segalanya bahkan.

AS: Kembali ke soal lalu lintas macet, jadi bagaimana?

FOKE : Ya artinya Dewa sekalipun, tidak akan dapat menyelesaikan masalah Jakarta secara tuntas, tanpa menyelesaikan masalah system pemerintahan kita, sebagai sumber masalahnya. Kalau otonomi ini masih seperti diibarat sebagai “kepala di jorokin kaki di ikat”. Dan ini masalaah di semua wilayah nusantara. Bukan hanya di Jakarta. Tetapi day to day kami terus mengupayakan dengan berbagai pihak terkait, untuk dapat menyelesaikan masalah ini. Sebab ini juga masalah prinsipil buat saya dan jajaran birokrasi semua. Kan kita telah memiliki program-program short term dan long term untuk menuntaskan memecahkan masalah ini secepatnya. Trans Jakarta, MRT umpamanya dan lain lain.

BANJIR

AS : Mumet juga ya Bang, kalau harus dependen dengan pihak terkait lainnya. Sekarang saya ingin beralih ke masalah banjir, bagaimana?

Foke : Insya Allah, Jakarta tidak akan pernah mengalami banjir lagi, setelah saya membangun dan menyelesaikan penyebab-penyebabnya. Saya mengerti apa yang harus saya lakukan, kalau hanya sekedar menjadikan Jakarta tidak banjir.

AS : Jadi di jamin tidak akan banjir Bang?!

Foke : Saya jamin TIDAK AKAN BANJIR kecuali FAKTOR ALAM seperti cuaca yang sangat ekstrim yg menyebabkan hujan menjadi diluar rata rata standard normal.

AS : Bener Bang? he he pernah di Jakarta tidak hujan tapi koq Banjir juga!!!

Foke : Itu kan artinya di Puncak Hujan lebat, Jakarta Kebanjiran…ini namanya “Sialan”..hahahaha AS : Kenapa Bang?, sedang mencari sesuatu? Foke : He he iya..ini maskara ketinggalan, duh..lupa saya…hehehehe dah ah biarin. Hayoh tanyaa lagi…

EKONOMI

AS : Jakarta juga kan ternyata harus tetap membuka kesempatan untuk pertumbuhan perekomonian rakyat kecil, bagaimana Abang meresponsenya?

Foke : Dengan penuh kesadaran, betapa pentingnya hal ini, anggaran belanja kita tersedia sangat besar untuk mengembangan perekonomian untuk menengah kecil, bukan saja untuk warga Jakarta tetapi juga untuk pertumbuhan provinsi-provinsi pensuplainya. Implementasinya, Jakarta membangun pasar-pasar traditional dan mempertahankannya habis-habisan, karena dia berkaitan dengan hajat hidup usaha kecil dan bahkan para petani kita diluar propinsi Jakarta. Berapa milyar perharinya terjadi transaksi di pasar-pasar traditional ini dari ex produk-produk pertanian saja. Ini artinya kesejahteraan bagi lapisan masyarakat bawah.

AS : Tapi Mall Mall makin banyak Bang?

Foke : Tidak makin banyak tetapi tumbuh seimbang dengan need dan pasarnya. Kalau itu suatu keniscayaan dari sebuah hukum ekonomi. Tetapi jangan salah, Mall Mall juga sekarang menetapkan segmentasi pasarnya. Jadi memang ada untuk kelas atas, menengah dan bawah. Artinya ada fenomena, usaha kecil mulai melangkah ke usaha modern.

URBANISASI

AS : Kalau arus urbanisasi gimana Bang Menyikapinya?

Foke : Ini fenomena di semua kota-kota besar sebagai pusat bisnis. Walau berdampak positive tetapi tidak sedikit dampak negativenya, seperti kerawanan kerawanan sosial yg terjadi saat ini.

AS : Jadi apa yg Abang lakukan?

Foke : Kembali ingin saya katakan, ini produk dari suatu system kita. Karena pola centralistis itulah, akhirnya semua terbangun di Jakarta dan masalahnyapun iherent muncul bersama. Yang dapat saya lakukan, ya terus melalui mekanisme yang ada kita berkoordiasi dengan pihak-pihak terkait, supaya bisa lebih tertib dan mengurangi dampak negatifnya. Itu saja.

PILGUB

AS : Bang kita beralih ke PILGUB ya Bang..Abang nyalon lagi ngga?

Foke : He he he…kita harus kembalikan kepada pemegang kedaulatan, yaitu rakyat. System kita menurut UU 32, Gubernur di pilih oleh rakyat!!!.

AS : Sekarang sudah mulai muncul nama-nama yg ingin mencalonkan sebagai Gubernur di Jakarta. Bagaiamana Abang melihatnya?

Foke : Kalau mereka berniat ingin membangun Jakarta, makin banyak calon, saya senang sekali. Biarkan rakyat memilihnya menurut nuraninya. Tetapi yg harus kita sama sama amankan adalah, jangan ada calon-calon yg tulalit tetapi lolos menjadi calon Gubernur. Kriterianya harus terdefinisi karena kompetensinya memimpin Jakarta, kemampuan leadershipnya dan harus muncul hanya putra yang terbaik. Pendidikannya harus level dengan kemajuan masyarakat Ibu Kota sendiri. Jangan dibawah rata rata Masyaraskatnya. Saya percaya warga Jakarta tidak akan gegabah. Pengalaman PILGUB kemarin kan jelas, masyarakat Jakarta semakin mature. Mereka tahu siapa yg harus dipilihnya. Bagi saya yang penting bagaimana bisa melanjutkan menyelesaikan masalah2 yg sangat crusial di Jakarta ini, dapat selesai dengan tuntas dan tepat pada waktunya.

AS : Jadi apa harapan Abang!?

Foke : Jakarta sudah on the right track untuk bisa menyelesaikan masalahnya sendiri. Memang perlu waktu, tetapi awas ini jangan di acak2 lagi oleh yang lain. kalau ingin cepet Jakarta menjadi Ibu Kota yang bermatabat. Mending kita lanjutkan bekerja yu!!! Walau saya harus tidur rata rata diatas jam 01 malam he he Alhamdulillah…

AWARD

AS : JAKARTA telah ditetapkan sebagai kota terbesih di Asia. Selamat ya Bang!

Foke : Alhamdulillah, ini bukan anugrah tetapi ihktiar kita semua. Ini modal kepada kesehatan warga semua, ditengah hiruk pikuknya. Wassalam….