by  Ali Syarief

TEMPO Interaktif, Jakarta – Sekretaris Jenderal Partai Golkar Idrus Marham mengklaim sang Ketua Umum Aburizal Bakrie berpeluang besar memenangi Pemilihan Presiden pada 2014. Dalam survei satu tahun terakhir, kata Idrus, popularitas Ical–sapaan Aburizal–terus menanjak. “Satu tahun ini saja hasil surveinya naik terus,” ujarnya usai mengumumkan pengunduran dirinya di Gedung DPR, Kamis 9 Juni 2011.

Dasar politkus, ngomong dan pendapatnya selalu diorientasikan untuk psycho war, karena memang realita di negeri ini berbeda dari estimate-estimate para praktisi politik maupun akademisi kita. Dan satu hal yang ingin saya katakan, bahwa para politisi kita ini, tidak sadarkan diri kalau system politik sudah berubah dari System memilih partai ke system memilih figure!!!.

Kita tahu, pada waktu pemilu 2004, Partai ex orde baru, seperti Golkar, PDI-P, PPP dll, adalah partai yang tetap raihan suaranya besar, walaupun angka perolehan suaranya untuk menempatkan kursi bagi kadernya di DPR RI terus menurun. Ini sesuai dengan hukum kekuasaan, partai-partai yg tidak bisa menempatkan kadernya menjadi penguasa, tidak akan besar raihan suaranya. Sebaliknya, seperti contoh Partai Demokrat, setelah SBY berhasil menempati kursi kekuasaan, pada pemilu 2009 kemarin, Partai Demokrat berhasil meraih 25 %  suara lebih dari 6% suara pada Pemilu 2004.

Nah, apa yang disampaikan Bung Idrus Markam itu, paradigmanya masih Parlementer. dikira mesin partai akan berjalan pada system presidential. Simple Thought, waktu pemilihan Gubernur di Jakarta, sekalipun  Kang Adang Darojatun, diusung dan di dukung Partai Besar yaitu oleh PKS dkk, kalah telak oleh Bang Fauzi Bowo yang katakanlah sebagai incumbent. Jadi yang ingin saya katakan peranan Figure dan thema program-program yang diKampanyekan jauh lebih penting daripada menggerakan mekanisme Parpol yang tidak jelas, seperti apa Parpol memobilisir dukungan suara secara kongkrit.

Saya senang dengan jargonnya Bung Foke ; “SERAHKAN KEPADA AHLINYA”. Inilah yang di fahami oleh pemilih dengan mudah membangun image. Karena pada waktu itu Bung Foke sebagai Wagub. DKI Jakarta. Sama halnya dengan SBY dengan jargon ”LANJUTKAN”, Kata singkat mengikat pemilihnya. Bukan karena, sekali lagi, dorongan atau mobilisir partai.

Nah, sseksali lagi sekarang Presiden dipilih langsung oleh rakyat, karena kita menganut system Presidential. Presiden, Anggota DPR, dan sekarang ada DPD, dipilih langsung oleh rakyat. Jadi RAKYAT TIDAK MEMILIH PARTAI. Logikanya dan yang terjadi di negara negara yg systemnya Presidential,  tidak ada alasan lagi sekarang Partai untuk berperan. Karena semua yg dipilih rakyat adalah orang per orang.

Walau realitanya  Di DPR RI masih ada fraksi  fraksi ex Partai-Partai, terjadi pula koalisi dan oposisi sebagaimana layaknya terjadi dalam SYSTEM PARLEMENTER.