“Berharap sistem absen baru mampu meningkatkan kehadiran anggota DPR. Mengembalikan citra DPR yang kian terpuruk”, demikian Marzuki Alie.

Sekilas ungkapan tersebut menjadi isyarat kepada kita, memang sudah keterlaluan kayaknya. Dari berbagai macam pemberitaan, kita tidak pernah mendengar sisi positif dari anggpta DPR yang terhormat itu

Ketua DPR Marzuki Alie mengeluhkan rendahnya kehadiran anggota DPR dalam rapat paripurna. Banyak anggota DPR yang tak jujur soal absensi paripurna. Kerap banyak yang hanya titip absen saja.”Yang jelas membuat orang berlaku jujur dulu. Sekarang ini absennya banyak yang nggak jujur. Ada absennya nggak ada orangnya, banyak yang nggak jujur,” tutur Marzuki. (detik.com)

Gambaran ketidak jujuran soal tanda-tangan pada daftar hadir tersebut, menjelaskan kepada kita proyeksi karakter anggota DPR terhadap perilaku -perilaku lainya. Menguatkan asumsi kita, bahwa anggota yang terhormat itu, disamping tidak terlalu cerdas juga sekaligus tidak jujur.

Tetapi itu menurut hemat saya produk dari sistem kita yang idak baik. Pertama sejak kita merekrut calon anggota DPR/DPRD, tidak memiliki mekanisme yang baik. Itu semua diserahkan kepada Partai. Partaipun, jangankan mau merekrut, wong nyari calon untuk ngisi darfat caleg saja, susah amat. Yang kedua, soal tugas dan fungsinya. Saat ini anggota DPR RI diperankan bak dalam system parlementer, sehingga suara mereka adalah suara partai, yang sudah pasti selalu berbenturan dengan kontrak sosial presiden dengan rakyat. Dan yang ketiga, betul tugas DPR itu antara lain adalah legilasi, tetapi bukan seperti sekarang. Itu artinya ibarat memberi buah kelapa kepada Monyet (siga monyet ngagugulung kalapa). Dia bisa memegangnya, tetapi dia tidak tidak tahu cara mengupasnya.

Saatnya kita membenahi DPR kita ini, mulai dari hulu hingga ke hilir. Jangan membiarkan membuka aibnya sendiri, sementara kita keasyikan menonton dagelan yang tidak lucu dan tidak terpuji itu.