Bangsa Indonesia menempatkan Tuhan pada ranah hukum dasar. UUD kita dalam preambulnya memuat “Ketuhanan Yang Maha Esa”, sebagai salah satu dasar negara dan bangsa Indonesia berpijak. Ini bisa kita maknai dua hal, yang artinya pertama Tuhan dijadikan sebagai alat politik, yaitu untuk mempersatukan bangsa-bangsa ini, dan yang kedua rasa ketakutan kalau Tuhan yang Maha itu, ditinggalkan oleh bangsa Indonesia. Karena itu, di bumi pertiwi ini tidak ada tempat bagi mereka yang tidak mengakui Tuhan. Maka lahirlah UU yang mengatur lebih rinci bagaimana eksistensi Tuhan itu ditetapkan dalam peraturan teknis sebagai suatu pengakuan melalui agama-agama tertentu itu.

Inilah yang kemudian menjadi sumber masalah. Kemahaan Tuhan menjadi tidak Maha lagi. Wilayah hak pribadi diatur oleh hukum negara. Expresi manusia untuk eksistensi kemahaan Tuhan, harus melalui agama-agama yg tadi ditetapkan oleh undang-undang negara itu. Akhirnya semua menjadi rancu, menjadi aneh dan kemudian semua menjadi terbelengu oleh kebodohan-kebodohan yang dibuat oleh kita sendiri.

Sebagian saudara kita pernah mengajukan Yudicial Review terhadap UU tersebut, yang sudah berumur 45 tahun di negeri ini. Mahkamah Konstitusi sedang menyidangkannya. Ada alasan yang cukup mendasar mengapa UU ini di review lagi. Ia dianggap bertentangan dengan Hak-Hak Asasi Manusia (Human Right). Jadi bukan karena semata-mata atau karena berkaitan dengan “iklim demokratisasi” saat ini. Peninanjaun kembali UU ini, disamping menteri agama kita, juga di tentang oleh sejunmlah LSM, seperti FPI, Hizbut Tahrir, dll. Tetapi sejumlah tokokh-tokoh juga seperti Imam Prasojo, Emha Ainun Najib, Andrea Hirata dan Garin Nugroho turut memberi kontribusi sikap dan pandangannya. Namun sejumlah tokoh-tokoh seperti Syafii Ma’arif, Franz Magnis Seseno. Luthfy Assyaukani dan Cole Durham, professor hukum dari Amerika, akan turut berbicara dalam sidang ini.

Benar adanya, estimiasi saya bahwa review atas UU tersebut, justru akan mendapat perlawanan yang sangat sengit dari umat islam itu sendiri. Saya membacanya, bahwa sebagai umat yang terbesar di negeri ini, sangat menikmati mengukur kebenaran keagamaan itu dari sudut keyakinannya sendiri. Karena itu kehadiran Ahmadiyah, Lia Eden dan yang mengaku nabi-nabi baru, dianggap sebagai suatu penistaan atas keyakinan mereka. Saya dapat memahami sikap sebagian saudaraku itu, karena dogma-dogma agama (Islam dan agama-agama lainnya), sangat merasuk dan telah menjadi attitude, tata fikir serta cita rasa pada umumnya, yang tidak bisa menerima keyakinan yang berbeda. Agama cenderung mengajarkan kita unutk menjadi robotic, baik gerak maupun fikirnya harus seiring dan seirama, dan itu berlansung secara turun temurun berabab-abad.

Mengakhiri tulisan ini, saya tertarik dengan pedapatnya Rene` Egli, dalam The LOL2A Principle :”man is provided free will. Therefore He has the power to deny this universal intillegence, his God, this is great how the power of man is”, dan selamat menikmati puisi di bawah ini:

This is God

(Phil Vassar)

This is God

Could I please have your attention

There’s a need for intervention

Man, I’m disappointed in what I’m seeing

Hey, This is God

You fight each other in my name

Treat life like it’s a foolish game

Well, I say, you’ve got the wrong idea

Oh, all I’m asking for is love

Well, I’ve seen you hurt yourselves enough

Oh, I’ve been waiting on a change in you

Ya, this is God

I’ve given everything to you

Oh but look at what you do

To the world that I created

This is God

What’s with this attitude and hate

You grow more ignorant with age

You had it made

Now look at all you’ve wasted

Oh, all I’m asking for is love

Well, I’ve seen you hurt yourselves enough

Oh, I’ve been waiting for a change in you

I know your every thought

Your heart and soul, and every move

There are so many consequences

To the things you do

All I’m asking for is love

Haven’t you hurt yourselves enough

Oh, I’ve been waiting for a change in you

A change in you

This is God