Saya terkagum kagum, ketika akan berangkat ke Bangkok dari Udan Tani, Provinsi yang berbatasan dengan Negeri Laos, tiba-tiba semua orang berdiri, mendengarkan lagu kebangsaan Thailand. Ia di putar lewat pengeras suara airport. Konon katanya hampir tiap hari, rakyat Thailand diperdengarkan lagu tersebut, sebagai bagian dari upaya menanamkan Cinta kepada Tanah airnya. Begitu juga di Singapore, di sekolah-sekolah di ajarkan how to be a good Singaporean. Pun di Amerika, ada program yg menggelorakan semangat dan bangga menjadi American.

Saya berfikir, kenapa di Indonesia tdk bergema hal tersebut. Padahal kita tahu, bahwa NKRI itu sangat rentan dengan perpecahan. Karena soal cewe saja diganggu, belum sempat di sakiti apalagi diperkosa, menyebabkan terjadi pertarungan antar kampung, hingga mebakar bakar rumah sekampung. Ini terjadi baru-baru ini di lampung. Tawur antar pelajar di kota-kota besar bisa menjadi benih perpecahan. Perbedaan etnis, ras dan agama, banyak tercatat mengakibatkan clash, seperti yg sedang terjadi antara Islam dan Hindu sekarang, juga terjadi di lampung, daerah yg justru sdh lama berbaur multi etnis dan suku.

Sebenarnya tugas siapa merekatkan persatuan dan kesatuan bangsa ini? Begitu saya tanyakan kepada Guru saya. “Ini tugas Pemerintah”, kata guru saya. Lalu kenapa tdk dilakukan?, lanjut tanya saya. “Kalau Negara melakukan hal itu, maka rakyat akan marah besar”, jawabnya tegas. Kenapa? kata saya. “Karena Pemimpin tidak pernah memberikan suri teladan dan contoh yang baik”, begitu jawab guru saya.