Hanya Terjadi di Indonesia

Negeriku aneh sendiri. Coba perhatikan hal ini;

Hanya terjadi di Indonesia, dalam system parlementer Pemilunya diikuti oleh peserta perseorangan dan ormas. Pemilu 1955 diikuti 172 kontestan terdiri dari sekian puluh partai, sekian puluh perorangan, sekian puluh organisasi non partai. Ini terjadi jaman Bung Karno.

Hanya terjadi di Indonesia, dalam system parlementer, partai yang bukan penguasa yaitu PDI dan PPP, tidak menjadi Partai Oposisi. Mereka hanya menjadi pelengkap seolah-olah demokrasi. Ini terjadi jaman Orbanya Pak Harto.
Hanya terjadi di Indonesia, Presiden BJ Habibie tidak diterima laporan pertnggung jawabannya oleh Partainya sendiri, yaitu Golkar.

Hanya terjadi di Indonesia, dalam system parlementer Gusdur, berhasil menjadi Presiden RI dari Partai yang kecil, PKB, bukan partai pemenang pemilu!.

Hanya terjadi di Indonesia, dalam system Presidential, dibentuk partai koalisi dan terbentuk partai oposisi. Ini sedang terjadi saat ini, era SBY.

Hanya terjadi di Indonesia, Aburizal Bakri mengatakan;”Pengabdian kepada Golkar adalah Pengabdian kepada Rakyat”, demikian pernyataan yang aneh, dan di amini oleh tokoh-tokoh Golkar. Padahal dalam system presidential rakyat tidak memilih Partai Politik.

Hanya terjadi di Indonesia, SBY melakukan Pertemuan, baru-varu ini, di Cikeas adalah koordinasi rutin antara SBY dengan anggota Fraksi PD DPR. Pertemuan membahas tugas, fungsi, pokok anggota PD yang ada di legislatif,” jelas Andi Nurpati, Ketua Bidang Komunikasi Publik DPP PD. Dalam system Presidential, rakyat memilih orang perorang, tidak ada lagi kaiatnnya dengan Parai politik, ketika seseorang telah menjadi anggota legsilatif.

Hanya terjadi di Indonesia, dalam system Presidential, dimana rakyat memilih orang perorang, tetapi di DPR ada perwakilan Partai Politik, fraksi-fraksi. Siapa yang memilih Parpol ya?

Hanya apalagi yg terjadi di negeri ini?