Sebenarnya aturan mainnya yg tidak ajeg, jadilah pemimpin politik pilihan rakyat itu, tanpa di sadari, berantem sendiri. Coba perhatikan pasangan Megawati dan Hamzah Haz dahulu, di ujung jabatan pecah kongsi dan terus kemudian bersaing berebut kekuasaan lagi. Di lanjutkan oleh SBY dan JK, begitu juga di ujung jabatan bercerai berai, talaq tiga, kemudian saling mengclaim keberhasilan dan terus berebut dan bersaing mencapai kursi no 1 di republic ini.

Sama, ditingkat gubernur juga seperti itu. Saya teringat, pada 5 tahun yang lalu, pasangan Ahmad Heriawan dan Dede Yusuf, adalah pasangan underdog. Tapi kemudian mengalahkan pasangan Danny Setiawan dan Iwan Sulanjana dan Agum Gumilar dan Nu’man, yg namanya sangat erat di hati masyarakat Jawa Barat. Semua menduga, bahwa yang mendulang suara itu adalah Dede Yusuf, karena kepopuleran namanya saja sebagai pemain sinetron.

Tetapi yang di sayangkan, amanat yg besar dari masyarakat Jawa Barat itu, tdk di laksanakan dengan sungguh-sungguh oleh Ustad Aher yang jutsru sangat piawai bagiaman menjelaskan kalimat amanah itu. Dari sejak dinyatakan unggul, pasangan Aher-Dede ini, sama sekali tidak pernah memperlihatkan pribadi seorang pemimpin.

Baru dalam sejarah Gubernur di Jawa Barat, kalau dalam satu acara Gubernur dan wakilnya hadir, datang sendiri sendiri. Itu terutama dalam acara-acara yg dianggap penting untuk eksistensi masing-masing. Di dalam managemen pemerintahaan juga, akhirnya di bagi wilayah kerja yang tak lazim, seperti penentuan pejabat siapa yang akan menduduki Dinas apa, di bagi wewenangnya antara gubernur dan wakilnya. Ini semata mata soal wilayah pengaruh saja, yg ujung2nya soal proyek-proyek pembangunan di Dinas-dinas tsb. Approval terhadap keuangan juga, masing-masing mempunayi nilai sendiri sendiri.

Dan banyak lagi kasus-kasus yg tidak baik lainnya, yang sangat mengganggu kpd keharmonisan dan kinerja birokrat di pemda Jawa Barat, karena itu antara staff juga menjadi terbentuk dua kubu. Ini sudah menjadi rahasiah umum. Bahkan rumornya dulu, itu gedung pakuan ingin di pisah menjadi residen untuk gubernur dan wagub.

Yang sangat menyedihkan adalah, justru program kerja yg mereka janjikan, kontrak social, sama sekali tidak berjalan. Pertama karena system yang buruk dan kedua karena leadership yang lemah.

System presidential dalam Pilgub tetapi di DPRD terjadi gaya parlementer plus leadership yang lemah, maka salah satu program mereka untuk menjadikan Jawa Barat sbg Provinsi IT, omong-kosong dan bohong, dan bahkan potensi sumber daya manusia dan alam di jawa barat yang melimpah ruah tidak di fahami, apalagi di manfaatkan, untuk mensejahterakan kehidupan rakyat jawa Barat.

Saatnya masyarakat Jawa Barat untuk menyadari dan tidak memilih lagi baik Ahmad Heriawan dan Dede Yusuf, yang telah bercerai dan kemudian berebut kursi Jabar satu pada pilgub yang akan datang. Jadikan incumbent musuh bersama bagi pasangan cagub yg lain. Save Jabar!. Cag