Apa yang salah dengan figure Pemimpin-pemimpin kita? Sejak kita melahirkan UUD 1945, oleh Para Pemimpin sejati kita dahulu, maka sejak itu pula, lahirlah pemimpin-pemimpin karbitan. Sejak itu pulalah, Pelawak menjadi anggota DPR RI, alm. Edy Sud. Sejak itu pula lah tentara, menjadi pemimpin politik dan eksekutif. Sejak itu pulalah, Ulama, Pendeta, dan tokoh agama lainnya di posisikan sebagai tokok-tokoh kenegaraan (pada supra structure).

Akhirnya, situasi berubah, karena cara dan situasi seperti itu, telah terbukti gagal, terutama dalam kehidupan perpolitikan, moral bangsa dan kerusakan lingkungan hidup kita, serta sumber daya alam lainnya. Terjadilah, setelah Bung Karno di kudeta (!?), Pak harto di lengserkan, gerakan reformasi. Lalu lahirlah pemimpim-pemimpin baru pasca reformasi.

Mungkin karena reformasi tanpa konsep, lahirlah pemimpin-pemimpin jaman Orba, lahir kembali di era pasca reformasi ini menjadi pemimpin-pemimpin seperti SBY, Wiranto, Akbar Tanjung, Prabowo, dll. Di legislative lahir pula pemimpin-pemimpin politik seperti Eko Patrio, Deddy Gumelar alias Miing, Nurul Qamar –ex pelawak 4 sekawan.

UU yang fungsinya recruitment calon pemimpin baik untuk eksektuif maupun legislative tersebut masih belum berubah, jadi akan menjadi semakin menarik nanti dapat kita lihat pada Pemilu 2014. Siapa yang akan muncul menjadi calon anggota legslatif dan siapa para calon president dan wakilnya.

Jadi bagaimana sesungguhnya melahirkan Pemimpin sejati itu? Pemimpin itu, bak Cendawan alias jamur. Ia tidak ada benihnya, ia tdk perlu di pupuk, ia tidak perlu di pelihara. Ia di lahirkan oleh alam, melalui iklim dan suhu yang tepat.

Pemimpin sejati, tidak perlu kita siapkan orangnya, tidak perlu kita didik/kaderisasi-seperti Partai Demokrat gagal membuat kader, tdk perlu juga di iklan2kan, seperti ARB. Ia akan lahir seperti para fouding fathers kita dahulu. Jamur tumbuh, karena ada media, dan hujan yang turun.

Alam sendiri yang kemudian akan melahirkan pemimpin. ketika iklimnya kondusif. Kita mencatat Bung karno, Bung Hatta, Syutan Syahrir, KH. Agus Salim, HOS Tjokroamito, dll. Tak ada yang mempermasalahkan, kenapa Bung Karno dan Bung Hatta yang pantas membacakan Proklamasi, yg kemudian menjadi Presiden dan wakil Presiden RI. Begitulah Pemimpin sejati lahir.

Apa itu iklim yang kondusif, iklim dimana pemimpin tumbuh secara alami, karena memang panggilan jiwa dan nuraninya. Kalau menciptakan hujan buatan (UU), supaya jamur tumbuh (Pemimpin), maka jadilah pemimpin-pemimpin jamur merang, walau banyak jumlahnya tapi harganya murahan. Jamur alami, seperti masutake di Jepang, walau sedikit jumlahnya tapi harum baunya dan mahal harganya.