Calon Indepedenden Perlu Manajemen Yang Baik
Syarief Makhya

(Unila): Calon independen membuat wacana Pemilihan Gubernur (Pilgub) Lampung 2008 makin berwarna.
Akankah masuknya calon independen membuat pilkada menjadi ajang pertarungan mesin politik, massa, ideologi,
hubungan sosial-pribadi, dan popularitas. Putusan Mahkamah Konstitusi (MK) pada sidang tanggal 23 Juli lalu
membuat partai politik tidak lagi mendominasi pencalonan kepala daerah. Sejak dikabulkan uji materiil pasal-pasal UU
32/2004 yang menyatakan pencalonan kepala daerah melalui partai atau gabungan partai, calon perseorangan yang
mendapat dukungan tertentu–persyaratan ini belum diatur–bisa mencalonkan diri melalui jalur independen.
Tentu saja, putusan Mahkamah tidak berhenti sampai di sini. Sesuai wewenang Mahkamah, putusan tersebut
hanya membuka pintu bagi calon perseorangan ikut pilkada, sama sekali tidak menyentuh aspek politik praktis terkait
dengan kekuatan calon independen vis a vis calon partai atau peluang calon independen memenangkan pilkada.
Di tengah “belum jelasnya” aturan hukum calon independen karena tidak bisa otomatis berlaku atau harus
ditindaklanjuti dengan aturan perundang-undangan, analisis politik tentang calon independen dalam pilkada nyatanya
terus bergerak. Ada yang menilai, calon independen harus bekerja keras meraih suara karena tidak punya mesin politik
sekuat partai juga tidak didukung konstituen yang jelas. Calon independen juga tidak punya basis kuat di birokrasi.
Pandangan tersebut disampaikan pengamat politik dari Unila, Syarief Makhya dalam diskusi yang digelar Lampung Post,
Jumat, 27 Juli lalu. Dalam penilaian Syarief, calon independen sulit bersaing dengan calon dari partai. “Calon
independen baru bisa bersaing jika memiliki manajemen pengerahan massa yang baik dan punya jaringan kuat,” kata
pengajar FISIP Unila ini, seperti diberitakan Lampung Post, Senin, (30/7). Karena tidak diusulkan partai, Syarief
menilai basis yang dibangun calon independen adalah konstituen yang tidak jelas. “Partai politik relatif ajek dan punya
konstituen ideologis walau proporsinya tidak besar,”ujarnya. Hal lain, calon independen juga tidak punya basis
cukup kuat untuk mengakses birokrasi. Menurut Syarief, birokrasi adalah sarana memengaruhi massa.
Pernyataan Syarief memiliki basis faktual yang kuat. Faktanya, saat ini calon independen masih berada pada tahap
eforia menyambut putusan Mahkamah. Euforia yang diwarnai perdebatan hukum tentang payung hukum untuk
melaksanakan putusan tersebut dan pro-kontra politik. Sedangkan partai politik dengan bebas bergerak ke mana-mana
tanpa hambatan. Untuk konteks Pilgub Lampung, misalnya, tokoh-tokoh yang berminat maju melalui jalur
independen masih sibuk mendiskusikan putusan MK, sedangkan bakal calon yang dielus partai sudah wira-wiri ke manamana.
Dari sini saja, calon independen kalah langkah, belum lagi memperhitungkan unsur infrastruktur partai yang terus
beroperasi. Soal persyaratan, misalnya, juga menjadi seleksi yang sulit diatasi calon independen. Mengacu
pada syarat dukungan tiga persen dari jumlah penduduk, seperti disyaratkan dalam putusan MK No.5/PUU-V/2007 yang
merujuk UU Pemerintahan Aceh, calon independen yang akan ikut Pilgub Lampung harus mengumpulkan minimal 210
ribu KTP atau cap jempol pendukung yang tersebar di 50 persen kabupatan/kota (pemilihan gubernur) atau 50 persen
kecamatan (untuk pemilihan bupati/wali kota). Memang, soal persyaratan belum diputuskan. Mahkamah hanya
menyebut kasus Aceh sebagai salah satu rujukan. Putusan final diserahkan pada pembuat UU(pemerintah dan DPR).
Yang jelas, Mahkamah mengamatkan agar syarat dukungan calon independen tidak terlalu memberatkan dan tidak
terlalu ringan. Mahkamah tidak merekomendasikan patokan 15 persen dari suara pemilih, seperti syarat pencalonan
kepala daerah oleh partai/gabungan partai, sebagai dasar persentase dukungan pencalonan independen. Jika
seperti ini, bagaimana peluang calon independen dalam pilkada khususnya pemilihan Gubernur Lampung 2008?
Bisakah calon mengumpulkan dukungan ratusan ribu? Mampukan calon independen bersaing dengan calon partai yang
didukung mesin politik dan basis massa? [LP/erik/syafar]
Universitas Lampung
http://www.unila.ac.id Powered by Joomla! Generated: 24 February, 2008, 16:06